Juni 17, 2026

Tampil Memukau di Forum W20, Dea Tasirin Wakili Y20 Indonesia

LIKUPANG, suluthebat.com – Gelaran Women-20 (W20), kelompok masyarakat yang dilibatkan dalam Presidensi G-20, dan digelar mulai Senin (14/2/2022), sudah berakhir dua hari sesudahnya. Side event  pertama di Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara dengan puncak kegiatan digelar Selasa pagi di Paradise Hotel Likupang, dihadiri  para perwakilan secara offline maupun online.

Kegiatan W20 diawali sambutan Chair W20 Indonesia, Hardiani Uli Silalahi, dilanjutkan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey, Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, UN Women Indonesia Country Representative and ASEAN Liaison. Hadir pula, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, kemudian dilanjutkan Head of Networks, Partnerships and Gender Division, OECD Development Centre, Bathylle Missika, membawakan presentasi awal sejarah dari W20. Selanjutnya acara diisi oleh tiga pembicara utama yaitu W20 Delegates of Japan, Prof Yoriko Meguro, W20 Delegates of Saudi Arabia, Salma Al Rashid dan perwakilan W20 dari delegasi Italia, Martina Rogato.

Di sesi pembukaan dari Perspectives and Recommendations, dibawakan HE Penny Williams dan Shinta Kamdani dari Indonesia. Pembicara utama, menghadirkan dua perempuan hebat yang merupakan wakil delegasi dari Korea Selatan, Kang Minah dan Nursyahbani Katjasungkana. Dilanjutkan  wakil Indonesia, Prof Dr Sulistyowati Irianto dan wakil dari delegasi W20 Austarlia Caitlin Byrne.

Diskusi publiK, digelar dengan sistem working group discussion mulai pukul 14.30 Wita hingga pukul 15.30 Wita dipimpin perwakilan dari W20 India, Pam Rajput..Kegiatan ini pun berakhir pada pukul 16.00 Wita dengan hasil diskusi oleh Co-Chair W20.

Di momen inilah, ternyata kaum milenial pun mendapat porsi. Maka tampillah Caroline Dea Tasirin. Dea diundang untuk memberikan tanggapan mewakili Y20 Indonesia 2022. “Saya berkecimpung di bidang kehutanan,, bidang yang santer dengan misogyny dan stereotip yang seksis,” ujarnya mengawali dialog itu.

Lulusan Master of Forest Science di University of Yale, Amerika Serikat, ini kemudian melanjutkan paparannya. Menurut dia, keterlibatan perempuan di bidang STEM telah lama dihambat oleh norma gender kuno yang berujung pada eksklusif di bidang-bidang lain. Akses STEM yang lebih rendah, dan lebih umumnya akses pendidikan yang lebih rendah, membuat perempuan sulit mendapatkan keahlian dan dukungan untuk kemajuan personal dan profesional.

Tak hanya itu, hambatan lainnya adalah kurangnya akses keahlian dan dukungan ini, menyisihkan perempuan dari kesempatan untuk berkembang, serta mengalami dampak yang tidak berimbang ketika menghadapi isu-isu sosial dan lingkungan. “There’s a bit of an intro and conclusion that’s less relevant to the public,” ujar putri pakar kelautan, DR. John Tasirin, itu.

Sistem yang dibangun berdasarkan pengalaman dan fokus memajukan satu gender saja, atau yang terlalu dominan terhadap gender tersebut, kata dia, pada akhirnya  melewatkan banyak sekali kesempatan bagi kaum perempuan semakin maju dan berkembang. “ Masih banyak yang ingin disampaikan, tapi kita cuma dapa kase waktu dua menit,” ujar gadis ini sedikit penasaran, namun tetap merasa bangga ada milenial Manado yang mendapat kesempatan bicara di even besar sekelas Woman 20 (W20) tersebut.(*)