Agustus 12, 2026

Manado, Suluthebat.id – Kasus dugaan penyalah gunaan Dana Hibah GMIM yang menyeret beberapa nama termasuk mantan Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara, Asiano Gammy Kawatu (AGK), menjadi sorotan publik. Meski telah ditetapkan sebagai tersangka dan di tahan oleh Polda Sulut, dukungan dan simpati kepada birokrat senior asal Tareran itu justru semakin deras mengalir, baik dari warga Minahasa Selatan maupun netizen di media sosial.

AGK dikenal luas sebagai sosok birokrat yang tegas, rendah hati, dan penuh dedikasi selama puluhan tahun mengabdi di lingkup Pemerintah Provinsi Sulut. Ia pernah dipercaya menduduki jabatan-jabatan strategis seperti Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Sosial, Asisten III, hingga Sekretaris Provinsi Sulut.

Namun, karier panjangnya kini diuji oleh proses hukum yang sedang bergulir. Dalam pemeriksaan yang digelar pada Senin (14/04), AGK terlihat keluar dari ruang penyidik dengan mengenakan rompi oranye pertanda akan di tahan Polda Sulut. Kepada wartawan, ia mengungkapkan perasaannya dengan nada lirih.

“Sebagai manusia biasa, saya merasa syok, kaget, dan tentu merasa terhina saat ditetapkan sebagai tersangka. Tapi saya akan menghadapi proses hukum ini, dan saya yakin bahwa saya bukan termasuk kategori seorang koruptor,” ujar Kawatu dengan mata berkaca-kaca.

Sebelumnya, dalam video klarifikasi yang beredar di media, Gammy Kawatu menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menggunakan sepeser pun dari Dana Hibah.


“Jika memang ada kesalahan sehingga saya ditetapkan tersangka, itu mungkin masalah administrasi tapi tidak ada satu rupiah pun uang itu masuk ke kantong saya,” ungkapnya.

Pernyataan ini mendapat respons luar biasa dari publik. Puluhan warga, terutama dari Minahasa Selatan menunggu di halaman Polda Sulut hingga larut malam. Mereka datang tidak hanya sebagai keluarga dan kerabat, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas terhadap figur yang mereka anggap sebagai “panutan dan pekerja tulus”.

Teriakan “AGK orang baik!” dan “AGK bukan koruptor!” terdengar lantang, mencerminkan rasa percaya masyarakat terhadap integritas Gammy Kawatu. Di media sosial, gelombang dukungan bahkan meluas secara viral. Warganet mengunggah potret, pesan-pesan semangat dan ucapan doa.

Fenomena ini membuktikan bahwa publik belum kehilangan kepercayaan terhadap birokrat yang telah lama menjadi bagian dari pembangunan daerah. Meski diterpa badai, AGK tidak berjalan sendirian.

Kini, publik menanti proses hukum yang adil dan transparan, sembari berharap kebenaran akan terungkap. Satu hal yang pasti, di tengah status hukum yang menjerat, Gammy Kawatu masih menjadi simbol kepercayaan bagi banyak hati yang tak mudah goyah. (Pro)