Agustus 12, 2026

PERINGATI PERISTIWA KUDATULI, WARGA BANTENG SULUT GELAR DISKUSI DI WARKOP

MANADO, suluthebat.com– Warga Banteng Sulut menggelar diskusi dalam rangka mengenang tragedi Kudatuli 1996. Diskusi yang bertajuk “Jiwa-Jiwa Yang Membisu” dihadiri anggota dan simpatisan PDIP se-Sulawesi Utara (Sulut), sekaligus memperingati perisitiwa yang berawal dari konflik internal Partai Demokrasi Perjuangan (PDI).

Peristiwa yang dikenang sebagai “Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli” atau Kudatuli ini. Merupakan peristiwa pengambilalihan paksa Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, menjadi kenangan bagi anggota maupun simpatisan partai yang berlambang Banteng ini.

Bertempat di Warung Kopi (Warkop) K-8 yang terletak di Sario Manado, warga Banteng Sulut menggelar diskusi dalam rangka memperingati peristiwa berdarah yang memakan korban pada 24 tahun silam. Sonny Supit (48) kader PDIP yang juga saksi dalam peristiwa Kudatuli mengatakan, pada waktu itu terlihat datang sekelompok orang dengan menggunakan truk dan diduga adalah anggota.

”Menggunakan truk, terlihat adanya kelompok, dan kami pikir mereka adalah teman, ketika kami sapa, mereka malah melempar batu kearah kami, sehingga kami pun membalas leparan batu. Aksi lempar batu terjadi berkisar 2 jam lebih, dan saya melihat seputar kantor DPP sudah dipagari oleh petugas dengan berpakain coklat dan loreng,” terang Supit. (27/7/2020)

Ia mengungkapkan, pada waktu itu kantor DPP PDI sudah di blokade oleh TNI/Polri dan satgas anti hura hara. “Saya sendiri kena lemparan batu sebanyak dua kali di pergelangan tangan sehinga bemgkok karena tulang pergelangan tangan terlepas, dan batu kedua mengenai kepala saya,” tutur Ketua PAC PDIP Tondano Selatan ini.

Lanjut Supit, Setelah serangan batu selama dua, kami mengadakan negoisasi terhadap penyerangan, dan kami akan damankan, namun kami tetap mempertahankan dengan meneriakan yel-yel Hidup Mega.”Kami tetap mempertahankan Ibu Mega Soekarno Putri sebagai Ketua Umum PDI, dan kami siap mati ditempat ini,” kenangnya.

Supit membeberkan negoisasi pun, tidak ada kesepakatan, terjadilah serangan kedua dengan melempar batu, bersama bom Molotov, serangan kedua itulah banyak memakan korban,” Lantaran luka, saya dibawa ke dapur kantor DPP PDI, terlihat banyak korban yang berjatuhan, pada peristiwa itu,” paparnya.

Kerusuhan bermula saat massa pendukung Ketua Umum PDI versi Kongres Medan Soerjadi berupaya merebut paksa Kantor DPP PDI. Mereka ditengarai tak terima dengan hasil Kongres Jakarta yang memenangkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum PDI.

Soerjadi disebut terlibat dalam penculikan kader, sehingga diadakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya yang hasilnya menyatakan Megawati sebagai Ketum PDI. Pada 22 Desember 1993, kader PDI yang memprakarsai KLB Surabaya kemudian mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) di Jakarta. Munas tersebut mengukuhkan Megawati sebagai Ketum PDI periode 1993-1998.

Sementara itu, Komnas HAM menyebutkan, berdasarkan hasil investigasi Tim Pencari Fakta menyatakan terdapat lima orang tewas dalam kerusuhan tersebut, dan 149 orang terluka dan 23 orang lainnya hilang. Sementara, kerugian materiil ditaksir mencapai lebih dari Rp 100 miliar.

Pada peristiwa 27 Juli 1996 ini, tercatat sebanyak 171 orang ditangkap dalam kerusuhan karena pengerusakan dan pembakaran. Rinciannya adalah 146 orang massa pendukung Megawati dan oknum lainnya dan 25 orang massa pendukung Soerjadi.

Pengamat politik yang juga pernah menjabat sebagai pengurus di partai berlambang Banteng ini, sebut Ferry Sangian, ikut hadir dalam acara diskusi tersebut mengatakan, peristiwa Kudatuli merupakan sejarah dan menjadi cikal bakal reformasi politik di Indonesia.” Peristiwa 27 Juli 1996 seharusnya menjadi tonggak sejarah reformasi politik di Indonesia,” terang Sangian.

Senada diungkapkan Olden Kansil yang juga anggota partai berlambang Banteng ini, Ia mengungkapkan, Kudatuli adalah sejarah perlawanan terhadap Orde Baru.”Peristiwa Kudatuli itu, membela PDI dan Ketua Defacto Megawati Soekarno Putri, dan Kudatuli bukan eksklusif PDI tapi milik rakyat Indonesia, dan jadi sejarah perlawanan terhadap rezim Orde Baru,” tutupnya. (aji)