“Mariara”, Lebih dari Sekadar Film

Oleh Denni H.R. Pinontoan (Kepala Pusat Kajian Agama dan Budaya IAKN Manado, Ketua PUKKAT).
Film “Mariara: Perjamuan Maut” sudah tayang di bioskop-bioskop se-Indonesia sejak tanggal 27 November 2024. Ia hadir perdana tepat di hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah serentak se-Indonesia. Adegan awal film ini, juga menampilkan pesta perayaan terpilihnya Sabina sebagai hukum tua desa Patemboan. Sebuah perjamuan maut. Sabina tewas di pesta itu.
Saya menonton “Mariara” nanti tanggal 2 Desember. Di media sosial, sejak gala premiere di Jakarta tanggal 24 November, sudah ramai komentar orang-orang tentang film ini. Umumnya memuji. Kata mereka inilah film pertama yang dibuat oleh orang Minahasa, Sulawesi Utara, lokasi syuting, pemeran hingga sutradara dan produser berada dan dari daerah ini. Kritik dari kalangan tertentu juga menjadi bagian euforia kehadiran film ini.

Bagi saya, “Mariara” lebih dari sekadar film. Sebagai film layar lebar, saya kira “Mariara” sudah sebanding dengan film-film Indonesia kebanyakan. Unsur sinematografisnya sudah sangat baik. Film ini menyajikan secara cukup detil, mulai dari adegan, seting tempat dan waktu, penokohan, visual gerak hingga audio.
Seperti terhadap film-film lainnya, ketika menonton “Mariara” saya berusaha memperhatikan, menyimak dan menginterpretasi pesan di balik visualisasi. Sebab, film sejatinya adalah “teks”. Ia lahir dari suatu konteks, lalu kemudian menghadirkan abstraksi secara imajinatif suatu bagian dari keseluruhan konteks itu dalam bentuk gambar bergerak dan bersuara. Artinya, film adalah produk karya seni, dan dengan demikian ia adalah produk kebudayaan.
“Mariara” menampilkan suatu interpretasi yang deskriptif, kemudian dekonstruktif tapi reflektif terhadap masalah kebudayaan dalam masyarakat Minahasa kontemporer. “Mariara”, suatu wacana kebudayaan Minahasa yang mengungkap titik konflik kontak antara kekristenan Eropa dengan kebudayaan Minahasa.
Secara simbolik, hal itu ditampilkan dalam satu adegan di film ini:
“Dasar pendeta mariara!” kata David (Leon Alexander), si pendeta muda dengan nada keras kepada Edward (Eric Dajoh) pendeta senior di jemaat itu.
David mengatakan itu di hadapan jemaat Kristen Patemboan dalam suatu ibadah di rumah gereja. Di depan mimbar yang sakral yang seolah-olah telah menjadi milik Edward, David menegaskan itu ketika hendak membela Marthen (Servi Kamagi), seseorang yang selama ini dituduh mariara.
Menurut saya, secara wacana, itulah klimaks film Mariara. Sebuah ungkapan yang sungguh dekonstruktif untuk mengungkap pertarungan ideologi kekristenan dan keminahasaan dalam masyarakat Minahasa sejak beberapa abad lampau.
Tokoh Marten seolah adalah representasi dari sebuah kaum yang terpinggir oleh dominasi ideologi keagamaan. Ia disebut “alifuru”, sebuah stigma reproduksi kolonial terhadap kaum yang masih berusaha hidup dengan tradisi leluhurnya. Stigma ini perlu dihadirkan untuk mengungkap realitas pada masyarakat Minahasa yang telah sangat dipengaruhi oleh ideologi Kristen Barat. Sebuah paradoks, bahwa ketika pun kolonialisme telah berakhir, dan kekristenan Barat sudah diminahasakan – antara lain ditandai dengan simbol burung Manguni pada denominasi gereja terbesar di Tanah Minahasa – antar orang Minahasa sendiri masih saling tuduh atas nama klaim kebenaran doktrin agama. Budaya dan tradisi warisan leluhur terpinggir.
Tapi, “Mariara” sepertinya berusaha melampaui dikotomi biner, yaitu (agama) Kristen versus (budaya) Minahasa seperti pendekatan umum selama ini. Ada tokoh pendeta Edward yang memusuhi Marten, seorang yang masih mewarisi tata cara keagamaan leluhur Minahasa, dan tokoh pendeta muda David yang hadir dengan suatu kesadaran baru. “Mariara” bagi David justru adalah kuasa ideologi yang memperalat agama pada satu sisi, dan budaya pada sisi lain. Bagi Marten, Tuhan dan agama itu, siapapun Dia, atau apapun itu adalah tentang kebaikan.
Jadi, film “Mariara” menghadirkan konflik tiga ideologi sekaligus, yaitu agama, politik-ekonomi, dan budaya. Itulah bagi saya, “Mariara” lebih dari sekadar film. Ia adalah tentang suatu diskursus kebudayaan, yang disadari atau tidak disadari terdapat jejak paradigma “indigenous people” di dalamnya. Yaitu, suatu keyakinan dan kesadaran berpengetahuan yang memposisikan masyarakat adat sebagai subjek pengetahuan.
Tokoh Marten merepresentasi perjuangan untuk merehabilitasi stigma negatif terhadap budaya warisan leluhur. Marten ditolak, diusir dan diburu oleh masyarakat yang sudah terideologisasi sedemikian rupa atas nama agama juga budaya. Sebuah gambaran masyarakat yang menjadi korban cuci otak oleh kepentingan berkuasa dan kaya elit. Itu sesungguhnya “Mariara” yang telah didekonstruksi secara wacana melalui teks film.
Mariara saya kira beda dengan film-film horor Indonesia lainnya yang mengutamakan eksploitasi ketakutan dan emosi keagamaan ketimbang kritik wacana. Mariara berhasil menerjemahkan diskursus teologis konflik agama dan budaya secara mengesankan.
Orang-orang Minahasa, atau siapapun yang masyarakatnya didominasi oleh ideologi keagamaan perlu menonton ini. Ini film yang sarat kritik dekonstruktif dan pesan yang bernilai bagi kebudayaan.
Pada film ini, “mariara” bukan lagi tentang siapa, tapi kini tentang “apa”! Mariara adalah hasrat berkuasa, yang bisa melembaga pada agama, atau juga budaya apapun, dan bisa meracuni siapapun.
Veldy Umbas, sutradara dan penulis naskah “Mariara”, saya kira pada hal ini berhasil menerjemahkan diskursus yang rumit dalam kebudayaan Minahasa melalui karya film. Seorang yang berusaha untuk terus memahami dan secara serius ikut dalam pergulatan kebudayaan Minahasa. Sebab, setiap detil dalam film ini adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat Minahasa, dan sang sutradara ada di dalamnya. (***)
