Gunakan Uang Kripto, Kim Jong Un Kembangkan Nuklir Korut
NEW YORK, suluthebat.com – Meskipun mendapat tekanan dunia internasional, krisis pangan dan keuangan akibat Covid 19, Korea Utara terus mengembangkan senjata nuklir dan program rudal balistik selama beberapa tahun terakhir. Yang jadi misteri adalah dari mana pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un membiayai pengembangannya mengingat negara tersebut sangat tertutup.
Misteri itu pun terjawab berdasarkan laporan rahasia PBB yang diungkapkan pada Sabtu (5/2/2022). Pada laporannya, PBB mengungkapkan bahwa pendanaan tersebut ternyata berasal dari serangan siber dan pertukaran mata uang kripto.
Laporan tersebut tertuang pada laporan tahunan dari Badan Pengawas Sanksi Mandiri yang diserahkan kepada Komite Sanksi Korea Utara Dewan Keamanan PBB. “Meski tak ada uji coba nuklir atau peluncuran ICBM (Rudal Balistik Interkontinental) yang dilaporkan, DPRK melanjutkan pengembangan kemampuan produksi material fisil nuklir,” bunyi laporan tersebut dikutip dari Al-Jazeera.
DPRK atau Republik Demokratik Rakyat Korea merupakan nama resmi dari Korea Utara. Sejak lama mereka sudah dilarang melakukan uji coba nuklir dan peluncuran rudal balistik oleh Dewan Keamanan PBB.
“Perawatan dan pengembangan nuklir DPRK dan infrastruktur rudal balistik terus berlanjut, dan DPRK terus mencari material, teknologi dan apa pun yang diketahui mengenai program di luar negeri, termasuk lewat sarana dunia maya dan penelitian ilmiah bersama,” lanjut laporan tersebut.
Laporan itu juga mengungkapkan bagaimana Kim Jong-un masih mampu membiayai pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik meski negara itu masih didera sanksi. “Serangan siber dan mata uang kripto, menjadi sumber pemasukan penting bagi Korea Utara,” bunyi laporan tersebut.
Selain itu mereka juga menerima informasi bahwa hacker Korea Utara terus menargetkan institusi finansial, firma mata uang kripto dan pertukaran. “Menurut anggota negara, pelaku siber DPRK telah mencuri lebih dari 50 juta dolar AS (Rp719 miliar) antara 2020 dan pertengahan 2021 dari setidaknya tiga bursa mata uang kripto di Amerika Utara, Eropa, dan Asia,” tambah laporan tersebut.
Mengutip Kompastv, Minggu (6/2/2022), Badan pengawas tersebut juga mencatat bahwa tahun lalu Firma Keamanan Siber, Chainalysis mengungkapkan, Korea Utara telah meluncurkan setidaknya tujuh serangan ke platform mata uang kripto. Hal itu membuat Korea Utara mengekstraksi aset digiital senilai hampir 400 juta dolar AS tahun lalu (Rp5,7 triliun).(*)
