April 21, 2026

Minsel, suluthebat.id – Minahasa Selatan (Minsel) kembali menjadi perbincangan, namun kali ini bukan karena prestasi, melainkan ironi yang memprihatinkan. Berbeda dengan kabupaten dan kota lain yang menyambut Natal dengan kemeriahan ornamen dan lampu hias, suasana di kompleks kantor bupati Minahasa Selatan justru gelap gulita, bak kota mati tanpa semangat menyambut hari besar umat Kristiani ini.

Pantauan langsung dari kawasan perkantoran di ibu kota Kabupaten Minsel, khususnya sepanjang jalan kompleks kantor bupati, menunjukkan minimnya upaya mempercantik wilayah tersebut menjelang Natal. Hal ini berbanding terbalik dengan daerah lain yang memanfaatkan momentum Natal untuk menciptakan keindahan dan kegembiraan di ruang publik.

Sorotan tajam datang dari Olivia, salah satu pengunjung di Amurang, yang mengungkapkan rasa kecewa atas apa yang dilihatnya. “Saya sangat heran, ini daerah yang mayoritas penduduknya merayakan Natal, tapi kenapa suasananya seperti ini? Gelap, tidak ada ornamen, tidak ada lampu-lampu cantik seperti di kota lain. Seolah tidak ada semangat Natal,” ungkapnya kepada media ini, Sabtu (14/12/2024).

Kritik ini bukan tanpa alasan. Momentum Natal seharusnya menjadi peluang bagi pemerintah daerah untuk tidak hanya menciptakan suasana yang indah dan penuh harapan, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap estetika wilayahnya, terutama di kawasan pusat pemerintahan. Namun, kenyataan di Minahasa Selatan menunjukkan sebaliknya.

Warga pun bertanya-tanya: apakah anggaran untuk dekorasi Natal tidak tersedia? Ataukah perhatian pemerintah daerah lebih terfokus pada hal lain? Padahal, tampilan kawasan ibu kota kabupaten, khususnya di pusat pemerintahan, mencerminkan citra sebuah daerah.

Saat kota-kota lain bersolek dengan lampu-lampu indah, suasana di Minahasa Selatan seakan kehilangan “cahaya”. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa semangat Natal tidak dirasakan maksimal di ruang publik yang seharusnya menjadi simbol kebersamaan dan sukacita.

Pemerintah Minahasa Selatan diharapkan segera merespons sorotan ini dengan langkah nyata. Bukan hanya untuk mempercantik kawasan, tetapi juga untuk menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan estetika dan semangat warga yang ingin merayakan Natal dengan penuh sukacita. Jangan sampai Minahasa Selatan terus-menerus menjadi “kota hantu” dalam arti sebenarnya maupun kiasan. (Pro)