Ratusan Warga GMIM Gelar Aksi Damai di Kantor Sinode, Desak Ketua Hein Arina Mundur

Tomohon, suluthebat.id – Suasana di Kota Tomohon mendadak ramai dengan gelombang massa berpakaian putih-hitam dan mengenakan pita ungu di lengan. Ratusan warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) menggelar aksi damai di Kantor Sinode GMIM, Rabu (11/06), sebagai bentuk keprihatinan mendalam terhadap situasi yang tengah melanda tubuh gereja.
Mereka menuntut Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM agar tegas menegakkan Tata Gereja, sekaligus mendesak Ketua Sinode, Pdt. Dr. Hein Arina, untuk mundur dari jabatannya. Desakan ini muncul menyusul status Pdt. Arina yang terseret dalam dugaan kasus korupsi terkait dana hibah dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Aksi ini dimulai dari Bukit Inspirasi Tomohon, tempat para peserta berkumpul sebelum melakukan long march secara tertib menuju Kantor Sinode. Dengan langkah damai dan semangat pembaruan, mereka menyuarakan harapan agar nama baik gereja tidak terus terseret dalam pusaran kasus hukum yang mencederai kepercayaan jemaat.
Ketua Wilayah Malalayang Timur, Pdt. Joke Mangare, sebagai salah satu masa aksi berharap dengan kecintaan atas GMIM, Pdt. Hein Arina kiranya mengundurkan diri.
“Kami berharap dan kami sudah bersikap bahwa dengan hormat atas nama GMIM, kecintaan GMIM, dan kami percaya Pdt. Hein Arina mencintai GMIM, dan kami katakan kiranya mengundurkan diri,” kata Mangare.
Lebih lanjut diungkapkannya, dengan mundurnya Arina sebagai Ketua BPMS memberikan keleluasaan kepada BPMS untuk mengagendakan Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI).
Adapun pernyataan sikap massa aksi yang menyampaikan beberapa poin penting:
– Menegaskan bahwa proses hukum terhadap Pdt. Hein Arina merupakan tanggung jawab pribadi, dan tidak boleh menyeret institusi gereja.
– Menilai BPMS telah gagal mengelola dana hibah dari Pemprov Sulut secara akuntabel dan transparan.
– Menyebut keterlibatan Pdt. Arina dalam dugaan penyalahgunaan dana hibah sebagai tamparan keras bagi citra GMIM dan bukti lemahnya tata kelola keuangan sinode.
– Meminta Pdt. Hein Arina segera mundur demi keutuhan dan keberlanjutan pelayanan gereja.
– Menuntut pemberhentian Pdt. Hein Arina sebagai pegawai organik karena dinilai mencoreng citra GMIM.
– Mendorong BPMS untuk membuka secara transparan pengelolaan dana hibah, termasuk dana untuk UKIT, RS GMIM, dan bantuan dari pemerintah daerah.
– Menolak segala bentuk politisasi dalam tubuh GMIM.
– Menuntut penghentian tunjangan kepada Pdt. Hein Arina karena tidak lagi menjalankan tugas.
– Meminta audit terhadap penggunaan dana hibah yang mengalir ke Kerukunan Keluarga Pendeta dan Guru Agama.
Aksi damai ini berjalan dengan tertib dan tanpa kericuhan, namun membawa pesan kuat: jemaat menuntut perubahan dan pemulihan integritas dalam tubuh gereja, demi masa depan pelayanan yang bersih, transparan, dan berwibawa. (Pro)
