April 20, 2026

Minsel, suluthebat.id – Batik sebagai warisan kearifan dunia tak benda berasal dari Indonesia tentunya harus terus dikembangkan. Dan ini yang diupayakan oleh Wale Batik Minahasa, bekerja sama dengan Direktorat Standardisasi Kompetensi Deputi Bidang Sumberdaya dan Kelembagaan, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menggelar uji kompetensi Batik, 25-26 Juli 2024, yang digelar di desa Lopana, Minahasa Selatan.

Uji kompetensi ini sendiri dilakukan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dengan penyelenggaranya yakni Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik yang diketuai oleh Dr. Ir. Rodia Syamwil, M.Pd.

Sertifikasi ini sendiri didahului dengan pra sertifikasi yakni pelatihan membatik selama 1 minggu, dan dilanjutkan dengan 1 hari pembekalan kepada sebanyak 50 peserta. Pihak Wale Batik Minahasa, Jenais Kawengian mengatakan sebenarnya pelatihan sudah sering dilakukan, dan pada pra sertifikasi ini, pihaknya kembali melakukan pelatihan untuk mengasa kemampuan pembatik-pembatik di bawah binaan Wale Batik Minahasa.

Ketua LSP Batik, Dr. Ir. Rodia Syamwil, M. Pd, kepada media ini bahwa kegiatan ini sangat strategis untuk mendorong sektor pariwisata di Sulawesi Utara. Karena batik yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia tak benda menjadi sarana yang sangat tempat untuk mempromosikan pariwisata. 

“Pariwisata di Sulut kan sangat berkembang dengan adanya pertumbuhan hotel-hotel akan juga menarik pelaku UMKM seperti pembatik untuk memasarkan produk-produk batik di sejumlah hotel dan tempat wisata lainnya,”tutur Rodia. 

Lebih lanjut, ketua LSP Batik dari Malang, Jawa Timur ini mengharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya tradisi dan seni yang memperkuat nilai-nilai lokalitas sehingga bukan saja pariwisata menjadi lebih berkembang, batik dengan nilai-nilai kearifan lokalnya juga bisa tumbuh berkembang. (***)