Dian Purnomo, Penulis Novel Ternama ini Harapkan Sulut Lahir Banyak Penulis Hebat
Bagi penikmat buku novel, nama Dian Purnomo pastinya sudah tidak asing di telinga. Pasalnya, buku novelnya yang berjudul Perempuan Menangis di Bulan Hitam karyanya, saat ini banyak diperbincangkan.

Tomohon, suluthebat.com – Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat) bersama komunitas penulis Mapatik, pada Jumat (09/09/2022) kemarin, kembali mengadakan gerakan literasi berupa pelatihan menulis.
Kegiatan itu diadakan di Kantor Sekertariat Pukkat, Kakaskasen, Kota Tomohon. Kali ini, Pukkat dan Mapatik menghadirkan dan berkolaborasi dengan seorang penulis novel ternama Indonesia, Dian Purnomo.
Bagi penikmat buku novel, nama Dian Purnomo pastinya sudah tidak asing di telinga. Pasalnya, buku novelnya yang berjudul Perempuan Menangis di Bulan Hitam karyanya, saat ini banyak diperbincangkan.
Karya sastra novel berbasis riset yang berjudul Perempuan yang Menangis pada Bulan Hitam itu bercerita tentang seorang gadis bernama Magi Diela, yaitu kisah tentang banyak perempuan di Sumba yang terpaksa menjadi istri untuk seorang laki-laki dalam praktik “kawin tangkap”.
“Kenapa saya bisa menulis itu? Itu berangkat dari kemarahan, keinginan untuk mengubah kondisi, setidaknya bisa merubah pemikiran orang (tentang praktik-praktik kawin tangkap),” ucap Dian Purnomo membagi pengalamannya saat membuka pelatihan menulis itu.
Dalam pelatihan menulis bersama Pukkat dan Mapatik, Dian Purnomo membeberkan dua kriteria penilis yang baik.
“Jadi hanya ada dua kriteria penulis yang baik, pertama penulis yang menyeselaikan tulisannya, dan kedua penulis yang menerbitkan hasil tulisannya,” ucap penulis yang sering meng-tagline akun ig-nya dengan kata #kelasnulisditaman itu.

Tak hanya di Tomohon, sebelumnya Dian Purnomo juga membuka kelas menulis di Sangihe. Kedatangannya di Sulut memang bertujuan pergi ke Sangihe. Keberadaannya di sana, Berangkat dari kepeduliannya meneliti persoalan tambang yang menggelisahkan masyarakat di sana.
“Sudah dua bulan saya berada di Sangihe, saya juga membuka kelas menulis untuk anak-anak di sana. Mereka begitu antusias untuk belajar menulis. Mereka juga tak kalah hebatnya dengan penulis-penulis lainnya,” ucap wanita yang juga kerap terjun di dunia boardcasting itu.
Menariknya, kelas menulis yang diberikannya harus dibayar dengan aksi peduli lingkungan.
“Kelas ini tidak gratis ya, peserta harus membayarnya. Tapi bukan dengan uang. Pelatihan ini wajib di bayar dengan aksi peduli lingkungan. Menanam pohon ataupun membersihkan lingkungan,” ucap Wanita peduli lingkungan itu.
“Saya harap nantinya semoga banyak penulis hebat yang lahir di Sulawesi Utara. Tentu, dengan menyelesaikan tulisan lalu diterbitkan. Tidak harus diterbitkan dalam sebuah buku. Salah satu contoh kecil misalnya menulis, selesaikan, lalu posting di media sosial atau blog,” pungkas Dian Purnomo.

Sementara itu, Denni Pinontoan selaku ketua Pukkat mengatakan kunjungan Dian Purnomo di Tomohon ini, adalah dalam rangka berbagi pengetahuan serta pengalaman tentang menulis bersama sejumlah penulis di Sulawesi Utara.
“Kedatangan Dian Purnomo di sini adalah dalam rangka pelatihan menulis. Beliau diundang Pukkat dan Komunitas Penulis Mapatik, ” kata Denni Pinontoan, Ketua Pukkat saat diwawancarai media ini usai kegiatan.
Hadir dalam kegiatan ini, Pembina Pukkat Pdt Ruth Wangkai, Director Komunitas Mapatik Rikson Karundeng, bersama Director Mawale Culture Movement Greenhill Weol. (Jud)
