Juni 1, 2026

SULUTHEBAT.COM-TOMPASO. Ritual Foso Tumo’tol Tahun Baru 3 Januari (3/1) 2022, di Watu Pinawetengan berlangsung dengan baik. Ribuan orang turut memeriahkan acara yang diadakan di Watu Pinawetengan, Tompaso Lama, Kabupaten Minahasa. Acara ini merupakan ritual tahunan yang selalu dilaksanakan oleh seluruh pegiat tradisi adat Minahasa di Sulawesi Utara.

Memang masyarakat Minahasa di tanggal 3 Januari selalu melaksanakannya layaknya festival budaya. Ribuan orang Minahasa hadir berkumpul dari berbagai daerah di Sulawesi Utara, bahkan ada juga dari luar Minahasa. Sejumlah komunitas ini merayakan ritual adat di situs-situs yang ada di kompleks Watu Pinawetengan.

Sejak pagi, puluhan komunitas budaya di Minahasa bergantian melaksanakan prosesi ritual. Dari melaksanakan ritual adat di batu besar hingga barbilas air di pancuran air panas.

Ritual Tumotol di atas Watu Pinabetengan yang dilakukan oleh komunitas adat pimpinan Rinto Taroreh.

Para Tonaas dari seluruh wilayah di Sulawesi Utara hadir dengan pakaian kabasaran khas Minahasa. Mereka datang dengan komunitas adatnya masing-masing dengan membawa semua perlengkapan ritual. Secara bergantian mereka melaksanakan tarian kabasaran hingga berdoa dengan hikmat. 

Ritual ini ditujukan untuk melestarikan tradisi Minahasa yang didalamnya memberi penghormatan kepada leluhur. Selain itu, ritual ini merupakan ritual menyambut tahun baru bagi Masyarakat Minahasa. Ritual ini menandai datangnya tahun baru sekalian mengharapkan berkah dari Sang Pencipta agar dapat menjalani satu tahun dengan baik. 

Diantaranya adalah Tonaas Rinto Taroreh yang menyampaikan betapa pentingnya untuk merawat situs Watu Pinawetengan. Tonaas yang selalu tampak berpakaian adat Minahasa ini bersama komunitasnya pada ritual ini melakukan pembersihan di situs mata air yang kotor dari sampah dedaunan dan plastik. Tonaas Rinto menyampaikan pentingnya menjaga tradisi ini dengan cara tidak mencemari nama Minahasa dalam bentuk bagaimanapun.

“Kita harus terus menjaga nama Minahasa dengan baik. Nilai-nilai baik yang ditanamkan oleh leluhur seperti berpikir cerdas, menjadi manusia yang berprinsip, dan juga bekerja keras harus terus kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari,”ujarnya.

Rickson Karundeng selaku Budayawan Minahasa menjelaskan pentingnya ritual Foso Tumo’tol bagi Masyarakat Minahasa. 

“Ritual ini harus terus dilaksanakan untuk menjaga akar budaya Minahasa. Ritual ini juga penting untuk menjaga persatuan dari seluruh Masyarakat Minahasa. Kita sebagai Masyarakat Minahasa jangan sampai terpecah belah hanya karena isu-isu tidak benar yang beredar di Masyarakat,”tandas Karundeng yang juga adalah dosen Teologi ini.

Ritual membersihkan diri di air pancuran rano paso kompleks Watu Pinawetengan.

Banyak harapan agar ritual ini bisa terlaksana dengan lebih baik juga disampaikan oleh Sofyan Yosadi. 

“Ritual ini mempunyai potensi wisata yang sangat besar jika dikelola dengan baik oleh Pemerintah Daerah setempat. Misalnya dengan mengatur tempat parkir hingga menata jalannya prosesi ritual dengan rapi dan teratur. Ritual ini juga merupakan kekayaan budaya Indonesia yang harus terus dilestarikan,”kata Yosadi pengacara kondang Sulut.

Dari ribuan pengunjung nampak pula sutradara film Mariara, Veldy Reynold yang tak ketinggalan mengikuti berbagai prosesi adat. 

“Sebagai insan film, masuk dan merasakan suasana ritual menjadi bagian tak terpisahkan untuk memahami situasi sehingga membanggun sosilogi film itu dengan benar. Selain itu, acara ini sebenarnya merupakan potensi pariwisata yang sangat besar. Kalau di Bali ini sudah jadi festival yang pasti mendatangkan wisatawan yang sangat banyak,”ungkapnya. 

Acara ini berjalan lancar dengan pengamanan oleh aparat gabungan dari Satpol PP, Polisi, dan Tentara. Banyak harapan agar acara ini terus terlaksana dengan baik di kedepannya. (ism)