Ketua ASITA Merry Katakan, Masa Pandemi Kucoba Bertahan
MANADO, suluthebat.com- Pandemi Covid-19 ini, telah memporak-porandakan perekonomian, dan pariwisata adalah sektor yang paling berat menerima pukulan, Sulawesi Utara (Sulut) yang dikenal dengan keanekaragaman pariwisatanya, tidak ketinggalan menerima imbas dari wabah ini, dimana ribuan karyawan pelaku pariwisata di Nyiur Melambai terpaksa dirumahkan.
Ketua Asosisasi Agen Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Sulut Merry Karaouwan, SH mengatakan, yang paling dahulut terdampak adalah sektor pariwisata, dan yang paling lama pulihnya adalah sektor pariwisata.
“ Keadaan pun sudah berubah, pada masa covid sekarang ini, mana ada orang yang suka jalan-jalan, kalaupun ada itu adalah jalan-jalan karantina,” ujar Merry Karaouwan, ketika diwawancarai SHTV pada acara Manado Editors Club (MEC), Manado (9/7/2021).
Walau keadaan sementara sulit sekarang ini, Merry Karaouwan bersama rekan-rekan di ASITA tetap mencari terobosan guna bisa bertahan dalam pandemi ini.
“Pariwisata di Sulut seperti lagu seperti kucoba bertahan, dimana agen lainnya sudah kolaps dan tidak sedikit yang sudah tutup ,” ungkap pemilik travel Exelcior ini.
Para anggota ASITA Sulut banyak yang berinovasi, seperti produsen penganan khas Manado, ada yang menjual pakaian, bahkan dengan adanya bantuan pemerintah, Asita bisa masuk bisnis cargo pesawat,’jelasnya.
“Pandemi ini membuat semangat Mapalus di antara anggota ASITA kian kuat. Pasalnya, mereka saling membeli produk yang ditawarkan. Kita saling menghidupkan,” tuturnya.
Dan ASITA sendiri, pada masa pandemi saat ini, memberikan pelatihan dengan membuat kerajinan tangan, seperti membuat tas dengan anyaman plastik, dan kami menamainya tas pandemi, untuk produksinya dilakukan di Likupang, dimana sekaligus menyambut KEK Likupang kedepannya.
“Produk pengrajin Asita Sulut, yaitu tas Pandemi yang mempunyai corak menarik serta dirajut dari plastik ini, selain praktis, tas ini mudah dicuci, karena bahannya terbuat dari plastik,” tutupnya.
