Menuju Manado Hebat Bersama Andrei – Richard
Ruru Ares, Tonaas pendiri yang menjadi Kepala Walak Wenang yang bergelar Dotu Lolong Lasut mungkin tak mengira desa yang dia dirikan ini kelak menjadi kota metropolitan yang dihuni hampir 1 juta manusia di siang hari, dan 500.000an pada malam hari.
Di masanya, Dotu Lasut sudah berinteraksi dengan dunia internasional seperti Portugis bahkan dia adalah sosok pemimpin yang kritis dan keras dengan pihak asing yang tidak menghargai tanah adatnya.
Wenang kemudian menembus batas waktu dengan sejumlah pergumulannya, kini rakyatnya sedang bersukacita menyambut pemimpin baru, sosok Dotulolong Lasut modern, pasangan Andrei Angouw dan Richard Sualang.
Sejumput asa sudah digantungkan pada kedua sosok dwi tunggal ini. Mereka kita percaya mampu mengatasi karut-marut urat-sengkurat, “malimbuku-talimburan” satu dasawarsa pemerintahan pendahulu.
Andre-Ichat pasti akan sibuk “manimpang” semua “tabolengkar” warisan pemimpin yang tanpa prestasi itu.
Pasti tidak mudah. Segala urusan tetekbengek remeh temeh rekrutmen aparat sampai pada urusan serius kota yang hampir tiap musim hujan “tenggelam” tentu harus dikerjakan satu per satu.
Kita percaya Andre-Ichad pasti mampu mengurus tumpukan “piring kotor” usai pesta 10 tahun sang pemimpin auto pilot.
Alasannya, karena Andrei dengan latar belakang entreprenuership yang mumpuni dan Ichad yang notabene seorang dokter sudah itu kombinasi pemimpin yang pasti paripurna. Pak Wali nya punya perspektif bagaimana menghidupkan kota, managerial skill, marketing, yang bertujuan meningkatkan PAD, PDRB dan tentu APBD secara signifikan. Sang Wawali paham persis urusan kesehatan masyarakat, sosial dan kemiskinan yang tentu bakal menjadi bagian dari program cepat kota Manado.
Jelas sudah mau dibawa ke mana Kota Manado. Arah kebijakan mereka pasti. Dan yang paling menggembirakan, mereka ditunjang oleh ekosistem politik yang sangat kondusif.
Baik pemerintah pusat, provinsi dan kota berada dalam satu tarikan nafas yang senada dan seirama dalam sebuah narasi “sinerjitas” solid Bergerak untuk wujudkan Indonesia, Sulut dan Manado yang maju.
Jelas Manado adalah episentrum yang menjadi titik tumpuh bagi Sulawesi Utara.
Sang arsitek Olly Dondokambey boleh bangga menang besar di hampir semua wilayah di Sulut, tapi tanpa Manado, kemenangan itu hambar.
Maka, Manado kini adalah harapan. Tak sekadar warga kota dan pemerintah nya. Manado itu mercusuar Indonesia di kawasan pasifik.
Kita tentu menunggu gebrakan Andre-Ichad menghadapi tantangan Manado hari ini dan kedepan. Tentu bukan Manado yang auto pilot. Tapi Manado yang perencanaan kotanya yang well planned. Matang. Proper dan rapih.
Baik infrastruktur maupun pembangunan manusianya bisa berjalan beriringan dengan harmonis, hijau, sehat dan berkelanjutan.
Kota akan ditata secara efektif karena setiap jengkal tanah akan jelas peruntukkan dalam RTRW yang cermat tidak tiba saat tiba akal tambal sulam tumpang tindih demi membela kepentingan investor nakal.
Tentu civil minimum terkait air bersih, transportasi umum, pemukiman dan sampah pasti bakal dibereskan segera.
Sambil tentu kualitas human capital harus ditingkatkan dimulai dengan menata pendidikan baik dari TK, SD dan SMP hingga perguruan tinggi.
Manado juga harus membuka ruang kreatif (creatif hub) bagi milenial dan generasi 4.0 ini agar kita tidak sekadar jadi objek kemajuan teknologi tapi mampu menjadi pelaku IT yang mumpuni. Dan itu sangat bisa.
Dengan adanya Pasific Cable Light Network dan Palapa Ring ini maka Manado dan Sulawesi Utara bakal memiliki Internet Super cepat yang zero latency. Ini adalah bekal bagi Manado untuk membangun data Center ataupun Cyber City sehingga akselerasi kemajuan kota akan sangat signifikan.
Bayangkan bila Google, Alibaba, Facebook hingga Tokopedia bakal buka kantor di Manado karena memang secara geografis Sulut persis berada pada titik Central Pasifik.
Sementara industri kreatif yang mendorong pelibatan pegiat seni dan budaya termasuk tari, musik, teater, hingga perfilman bisa tumbuh subur menjadi kekuatan peradaban Manado sebagai kota dengan karakter budaya yang kuat.
Pada akhirnya, sebagai sebuah kota dengan kepelbagaiannya yang sangat majemuk tentu warga berharap kota ini menjadi;
Kota nyaman untuk tinggal. (Dengan tetap menjamin kerukunan masyarakat sebagai melting pot “tinutuan” yang toleran dalam semangat torang samua basudara sebagai ciptaan Tuhan).
Kota yang kondusif dalam berinvestasi. (Di mana setiap warganya bertumbuh menjadi pelaku usaha baik skala UMKM maupun yang lebih besar sehingga mampu berkolaborasi dengan investasi dari luar).
Kota yang indah untuk dikunjungi. (Kemajuan kota dengan penataan serta masyarakat yang ramah akan menjadi daya tarik bagi wisatawan asing dan ini menjadi faktor penting mendorong industri pariwisata).
Layaknya Plato pada dongeng Atlantis sebuah kota yang dibangun oleh manusia setengah dewa, tentu alegoris ini mendorong manusia membangun kota yang lebih beradab bagi setiap penghuninya.
Tentu, Andre-Ichad bukanlah manusia setengah dewa yang pada mereka kita akan menggantungkan semua mimpi kita. Tapi paling tidak kita semualah yang harus bergotong-royong, bermapalus membantu Andre dan Ichad.
Semua potensi dan celah ini pasti sudah dipikirkan Andre-Ichad. Kita tunggu saja. Saya sendiri yakin itu. Seyakinnya saya bila Dotulolong Lasut Ruru Ares berdiri di puncak Malalayang melihat Wenang abad 21yang maju dalam kendali Andre-Ichad. Mereka.
