Mei 31, 2026

Target Masuk 50 Besar Sepak Bola Dunia, Erick Thohir Fokus Pembinaan Usia Dini

Jakarta, suluthebat.com- Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mulai membenahi sepak bola di tanah air, termasuk memberikan perhatian serius pada pembinaan usia dini.

Pembenahan sepak bola usia dini itu dilakukan mulai usia 9 tahun, bukan 12 tahun sebagaimana yang terjadi selama ini.

Erick Thohir menyampaikan hal itu saat memberikan arahan kepada seluruh  Asprov se-Indonesia di Hotel Le Meridien, Jakarta, Minggu (19/3/2023).

Erick mengatakan PSSI di bawah kepemimpinannya memiliki target pada 2045 akan menjadi masa keemasan sepak bola Indonesia.

“Paling tidak, kita bisa masuk 50 besar sepak bola dunia. Tidak mudah, tapi kita harus berani. Oleh karena itu, tadi ditegaskan bahwa pembinaan usia dini itu mesti dimulai sejak 9 tahun, bukan 12,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur SSB Persatuan Sepak Bola Indramayu (Persindra), ED Riyandi, memuji langkah Erick tersebut yang dinilai sebagai wujud keseriusan PSSI dalam memajukan sepak bola Indonesia.

Menurut Riyandi, dengan melihat langkah strategis yang dilakukan Erick Thohir sudah terlihat upaya untuk memenuhi janji-janjinya kepada masyarakat pecinta sepak bola Indonesia dengan memberikan perhatian serius dalam pembinaan usia dini. 

“Saya sebagai bagian dari SSB, orang yang peduli pada pembinaan usia dini terutama sepak bola tentu berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh Erick Thohir hari ini adalah bagian dari upaya pemenuhan janji-janji dia sebagai ketua PSSI, dan itu hukumnya fardhu a’in. Artinya kewajiban yang tidak bisa diwakilkan tapi harus ditunaikan secara benar,” ujar Riyandi.

Pembinaan usia dini, kata Riyandi, menjadi roh utama dalam sepak bola satu negara atau klub profesional.

Negara-negara yang sepak bolanya maju, lanjutnya, tidak terlepas dari perhatian federasinya dalam pengembangan pemain usia dini. 

“Dalam arti pembinaan usia dini itu ibaratnya roh utama, tidak ada satu negara yang kemudian olahraganya bagus, sepak bolanya maju jika pembinaan usia dininya apa adanya, tidak ada prestasinya dan kalau dijalankan apa adanya yak nggak bakalan maju,” tuturnya.

Di negara manapun yang sepak bolanya maju, kata Riyandi, tak lepas pembinaan usia dini.

“Di Indonesia harus sangat-sangat serius, benar-benar ditata dengan rapih dengan segala macam bentuk program fasilitas dan segalanya. Karena itu Indonesia harus bisa kembali lagi pada pembinaan usia dini yang cukup, bahkan harus lebih lagi karena kita sudah banyak ketinggalan dan kita mengapresiasi apa yang dilakukan oleh ketua PSSI hari ini,” ungkapnya. 

Menurutnya, banyak pemain muda bertalenta di Timnas Indonesia datang dari daerah.

 Untuk itu, kata Riyandi, permintaan Erick Thohir kepada para Asprov ini sangat tepat dan harus dieksekusi secepatnya oleh Asprov untuk kemajuan sepak bola Indonesia ke depan.

“Lahirnya talenta-talenta sepakbola nasional yang baik itu dari segala penjuru tanah air, dan itu tidak lepas dari bagusnya pengelolaan sepak bola di usia dini. Tidak mungkin lahirnya seorang pemuda-pemuda bertalenta baik, jika pada saat usia dini mereka sudah trauma dengan sepak bola, ini penting. Tidak mungkin lahir seorang Messi jika Messi tidak kemudian terlibat dari sepak bola usia dini,” jelasnya.

Jika PSSI benar-benar konsen terhadap pembinaan usia dini dari sekarang, kata Riyandi, maka 5 sampai 10 tahun ke depan akan muncul pemain-pemain muda terbaik dan PSSI tidak lagi menggunakan pemain naturalisasi untuk meraih prestasi. 

Langkah serius Erick Thohir ini, lanjut Riyandi, juga harus didukung dengan fasilitas seperti lapangan hingga bola.

Pasalnya, jika keinginan ini tidak disertakan dengan bantuan fasilitas maka akan sulit juga menciptakan atau melahirkan pemain-pemain bertalenta ke depan. 

“Karena tidak mungkin lahir seorang pemain nasional jika kemudian dia tidak tumbuh bagus dan besar di kabupatennya. Jadi Pak Erick Thohir tolong kalau bisa gerilyalah dari kabupaten ke kabupaten, tidak cukup di Asprov saja, Indonesia ini besar,” pungkasnya.(*)