Mei 31, 2026

Sekjen PDIP : Tangan Pemimpin Tak Boleh Berlumuran Darah

Jakarta, suluthebat.com- Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, mengingatkan kembali bahwa seorang pemimpin tidak boleh otoriter dan tangannya tidak boleh berlumuran darah.

Hasto Kristiyanto menyampaikan hal itu dalam diskusi bertajuk Refleksi Peristiwa Kudatuli: Gerbang Demokratisasi Indonesia di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (27/7/2023).

“Yang namanya pemimpin itu tidak bisa hadir tanpa langkah yang membangun peradaban, pemimpin tidak bisa hadir ketika tangannya berlumuran darah, pemimpin tidak bisa hadir ketika memiliki rekam jejak yang digelapkan oleh nilai-nilai kemanusiaan yang membutakan hati nuraninya itu,” ujar Hasto.

Hasto mengungkapkan pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang selalu mengingatkan bahwa Kudatuli bukanlah peristiwa biasa.

“Beliau (Megawati) selalu mengingatkan 21 Juli 1996 bukanlah peristiwa biasa. Ini adalah spirit gerakan arus bawah berhadapan dengan rezim yang sangat, sangat, sangat otoriter dan menggunakan berbagai cara demi kekuasaan itu,” kata Hasto.

Hasto mengingatkan dalam peristiwa Kudatuli, kantor PDIP telah menjadi korban karena diserang.

Meski kantor PDIP saat itu luluhlantak, lanjutnya, semangat perjuangan tidak dapat dihancurkan.

“Dan kantor partai ini berhasil dilululantakkan tetapi yang namanya semangat perjuangan itu tidak pernah bisa dihancurkan,” tuturnya.

Peristiwa Kudatuli, lanjut Hasto, menjadi pengingat bahwa kekuasaan tidak bisa dibangun dengan cara yang otoriter.

Dalam catatan KOMNAS HAM, jumlah korban peristiwa Kudatuli sebanyak lima orang.

Beda dengan KOMNAS HAM, dalam catatan PDIP jumlah korban hilang 104 orang.

Turut hadir sebagai pembicara Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid dan sejarawan Bonnie Triyana,  politikus PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning yang juga merupakan saksi dalam peristiwa tersebut. Sejumlah Relawan Ganjar Pranowo juga hadir, termasuk Ketum Relawan Ganjar Indonesia, Veldy Umbas. (*)