Mei 13, 2026

Minsel, suluthebat.id – Di tengah upaya Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Maesaan, Winsi Lengkong, memperbaiki fasilitas dan menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, sekolah ini menghadapi tuduhan miring yang menyerang integritasnya.

Berbagai langkah signifikan telah dilakukan oleh Winsi untuk menata sekolah menjadi lebih baik. Fasilitas seperti lapangan basket dan gedung perpustakaan telah dibangun, CCTV dipasang untuk meningkatkan keamanan, serta beberapa bangunan yang sebelumnya terbengkalai kini mulai diperbaiki. Namun, di balik kemajuan ini, tuduhan mengenai ketidaktransparanan dalam pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) muncul ke permukaan.

Salah satu media online mempublikasikan artikel yang mengkritik transparansi dana BOS serta menampilkan foto ruang kelas yang rusak dan WC sekolah yang tidak terpakai. Menanggapi hal ini, Winsi Lengkong menjelaskan bahwa kerusakan WC tersebut bukan karena kelalaian, melainkan karena ketiadaan air yang disebabkan oleh keterbatasan pasokan air di desa.

“Saya sudah mencoba berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menggunakan air PAM, tetapi ketersediaannya masih kurang bahkan untuk memenuhi kebutuhan warga desa,” ujar Winsi. Ia juga menambahkan bahwa kerusakan ruang kelas disebabkan oleh tindakan vandalisme, dan perbaikan sudah direncanakan. “WC yang rusak parah juga sudah masuk daftar perbaikan oleh PUPR tahun depan,” jelasnya kepada media ini, Rabu (11/12/2024)

Winsi juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap media yang memberitakan kabar tersebut tanpa verifikasi. “Wartawan yang bersangkutan tidak dapat menunjukkan identitas jelas, termasuk sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW), sehingga saya meragukan kredibilitasnya,” katanya.

Sementara itu, tanggapan positif datang dari salah satu orang tua siswa, Eunike, yang juga warga sekitar sekolah. Ia menilai banyak kemajuan yang terjadi di SMA Negeri 1 Maesaan. “Sekolah ini jauh lebih baik sekarang. Fasilitasnya bertambah, disiplin meningkat, dan siswa lebih nyaman untuk belajar serta berolahraga,” ujar Eunike.

Kejadian ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi pemimpin institusi pendidikan seperti Winsi Lengkong dalam menjaga keseimbangan antara upaya pembenahan dan menghadapi kritik yang terkadang tidak berdasar. Meski demikian, Winsi menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu sekolah demi kepentingan siswa dan guru. (Pro)