Juni 1, 2026

Peringati HIMAS, Makatana Minahasa Gelar Diskusi Strategi Pelestarian Bahasa Daerah

Tondano, suluthebat.com-Peringati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Utara bekerja sama dengan Makatana Minahasa dan Cultural Survival menggelar kegiatan diskusi membahas strategi  pelestarian bahasa daerah.

Diskusi strategi pelestarian bahasa daerah ini bertujuan demi kelanjutan kekayaan khazanah budaya Minahasa dan sebagai identitas masyarakat adat Minahasa.

Diskusi ini juga bertujuan membina para pemuda adat untuk memiliki kapasitas atau kemampuan sebagai motor penggerak gerakan masyarakat adat di wilayah adatnya masing-masing.

Kegiatan diskusi yang mengusung tema Pemuda Adat Sebagai Agen Perubahan Untuk Penentuan Nasib Sendiri itu bertempat di Benteng Moraya Tondano, Rabu (9/8/2023).

Kegiatan diskusi diawali dengan ritual Minahasa yang dipimpin oleh Tonaas Rintoh Taroreh di Watu Panimbe yang tak jauh dari tempat kegiatan.

Tonaas Taroreh menjelaskan Watu Panimbe adalah satu penanda peradaban di wilayah yang kemudian disebut Minawanua.

“Watu Panimbe adalah penanda berdirinya pemukiman baru khususnya di Pakasaan Toulour. Watu ini adalah sebagai penanda peradaban zaman pun sebagai saksi peristiwa heroik yang pernah terjadi di masa silam dulu,” jelas Tonaas.

Usai menggelar ritual memohon perkenanan dari yang kuasa dan leluhur agar kegiatan berjalan lancar, perwakilan adat di Minahasa juga turut memberikan orasi budaya baik dari tua-tua adat Bantik, Tolour dan Tonsea.

Para tua adat menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing.

Diketahui, entik Minahasa memiliki dua bahasa daerah yang penuturnya paling sedikit di dunia yakni bahasa Ponosakan dan bahasa Pasan.

Kedua bahasa dari etnik Minahasa ini sudah berada dalam status hampir punah.

Per November 2014, penutur bahasa Ponosakan hanya tersisa empat orang.

Usai kegiatan di Watu Panimbe, para peserta langsung diarahkan menuju aula untuk melanjutkan kegiatan diskusi budaya.(Vidi)