April 21, 2026

Pemuda Asal Minsel Ini Bertekad Menjadi Pelayan Tuhan Ditengah Keterbatasan Ekonomi

Minsel, suluthebat.com – Setiap orang memiliki cita-cita menginginkan untuk menjadi lebih baik dan memiliki sesuatu yang baik untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang juga dalam tujuan agar bisa berbuat dalam melayani dan menjadi berguna ditengah masyarakat.

Hal itu pula yang berada dibenak Alexandro Woruntu seorang Mahasiswa semester 4 Fakultas Teologi Jurusan Teologi Kristen Protestan Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) yang berasal dari Desa Tumani Utara, Kecamatan Maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Alexandro mengatakan alasan dirinya memilih menempuh pendidikan di jurusan tersebut karena berkeinginan besar menjadi pelayan Tuhan juga menjadi pemimpin gereja masa depan secara organisasi dan lebih daripada itu untuk menjangkau dan melayani banyak orang dengan berpatokan pada pelayanan Kristus sebagai teladan yang sejati.

“Ke depan saya berharap setelah lulus akan menunggu pembukaan pendaftaran Vikaris namun apabila belum dibuka sangat besar kerinduan saya bisa melanjutkan study S2 Teologi,” ujarnya.

Meski begitu besar harapan, usaha dan upaya yang dilakukan, Ia menyadari selalu ada tantangan yang sering dihadapi dalam perjalanannya menempuh pendidikan antara lain dalam segi biaya, sebagai anak dari keluarga yang berlatar belakang petani yang mungkin kondisinya berbeda dengan orang lain yang serba berkecukupan saat kuliah, namun hal itu tidak pernah menimbulkan rasa malu di lingkungan sosial. Hanya saja seringkali akan terasa berat untuk dihadapi apabila tiba saatnya untuk membayar uang semester/uang asrama.

“Ya, terkadang waktu pembayaran sudah tiba tapi belum musim panen padi, apalagi jika dihadapkan dengan hasil panen yang kurang baik, dikarenakan faktor cuaca yang buruk, harga yang turun dan lain-lain, sehingga menjadi pergumulan tersendiri yang harus dihadapi, saya tau dalam kondisi seperti itu orang tua saya juga harus bijak dalam mengatur keuangan, mana yang harus digunakan untuk membayar biaya kuliah dan mana yang akan dipakai untuk kebutuhan di rumah.

Saat masih kuliah online, anak tunggal dari Jefry Woruntu dan Grace Monintja ini mengaku seringkali meluangkan waktu membantu orang tuanya saat menjemur, mengangkat dan menggiling padi hasil panen.

“Saat membantu orang tua disitulah saya merasakan betapa sulitnya orang tua saya berupaya memperoleh biaya kuliah itu tapi  papa saya hanya berkata ca tumawoy ca kuman artinya tidak kerja maka tidak makan, juga selalu mengatakan selama masih sehat teruslah berusaha,” Ungkap Sandro.

Diungkapkan Sandro, dirinya berharap kedua orang tuanya tetap semangat dan tetap tekun dalam proses Tuhan, tetap yakin dan percaya bahwa semua akan indah pada waktunya sesuai dan seturut dengan waktu Tuhan, sehingga kiranya mereka bisa melihat dan menikmati kesuksesan dari apa yang sementara saya perjuangkan saat ini.

Sandro juga berpesan untuk teman-teman anak muda agar jangan mudah terpengaruh terhadap perkembangan teknologi saat ini, kita harus mengelola setiap informasi yang kita peroleh sehingga tidak mudah terjadi salah paham antar satu sama lain dan menimbulkan hal yang tidak di inginkan jadikanlah perkembangan teknologi sebagai ladang untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Waktu yang ada saat ini bukan lagi untuk di sia-siakan, kejarlah pendidikan sesulit apapun itu sehingga sama-sama kita bisa membangun daerah kita menjadi lebih baik lagi, jadikanlah masa muda menjadi masa yang berguna bagi setiap orang, jauhi hal-hal yang membawa citra buruk bagi diri sendiri dan keluarga, sekarang sudah bukan waktunya lagi untuk menonjolkan diri dalam siapa yang paling kuat dan hebat secara fisik namun mari tonjolkan diri dalam prestasi dan hal-hal positif.

“Yang paling kuat bukanlah mereka yang bisa mengangkat pedang namun mereka yang bisa mengangkat kesejahteraan harkat dan martabat keluarga dan nama baik desa, toh ujung-ujungnya anak cucu kita yang akan menikmatinya nanti,” pungkas Alexandro. (Pro)