Juni 1, 2026

Bukan Pulau Biasa, Welcome to Para Island! A Hidden Paradise…

This is my wonderful-trip journal. Kami menggunakan MV Majestik Kawanua II yang melayani pelayaran laut rute Biaro, Tagulandang, Siau dan Pulau Para dengan durasi kurang lebih 5 jam.  Nyaman dan bersih. Berangkat pukul 10.30 Wita, kami tiba di Pulau Para pukul 16.00 Wita. Tidak ada ombak dan kami sempat beli Salak Tagulandang yang sangat terkenal itu, juga halua kenari dan amu (sukun) di Tagulandang.

Disambut dan dijemput dengan hangat oleh Opolao (Kepala Desa), Pak Nesar dan teman-teman Pokdarwis,  kami langsung didoakan dan menikmati sajian teh hangat dan makan malam dengan menu ikan dan dabu-dabu lilang (mareee..).  Bincang ringan dengan teman-teman Pokdarwis sambil  menyerahkan beberapa buku untuk persiapan perpustakaan mini.  Kenapa buku? Karena buku adalah jendela dunia… begitulah.

Malam kian larut, lampu sudah dinyalakan (disini lampu dinyalakan pukul 18.00 s.d 6 pagi), kitapun masuk di Homestay yang sudah disiapkan. Jangan tanya soal hospitality di sini.  Ini sudah menjadi DNA mereka.  Saya terkesan dan malu sendiri dilayani seperti ratu (lebah).

Hari ke 2, Minggu. Jangan ditanya apa kegiatan di pulau Para ini. Ibadah sejak jam 9 pagi s.d jam makan Siang.  Jam 6 pagi, kami memutuskan untuk hiking dengan jarak 3 km ke destinasi ‘9 pohon kelapa’ dimana 1 akar tapi bisa menghasilkan 9 pohon kelapa dengan buah yang banyak.  Dilanjutkan ke tambak raksasa dengan segala macam ikan seperti Goropa, Kakaktua, Baracuda, Napoleon, ada di sana.  Kenapa raksasa? Karena ikan2 yang ada disitu berukuran XXL

Lanjut melihat lihat Sekolah SD dan SMP yang sangat bersih dengan jumlah siswa hanya 40-an untuk SMP dan 20-an untuk SD.  Saya senang karena ada ruang perpustakaan dan sekilas ada banyak buku di dalamnya. Kemudian, kami sempat melewati ‘tempat barter’ pertemuan antara penjual dan pembeli dengan sistem barter. Tidak ada transaksi uang fisik disini.  Kelapa ditukar dengan ubi dst., dst.  Ah, mengingatkan saya sistim dagang mula mula.

Kami sempat ke rumah 4G, di atas bukit untuk mencari signal. Tower ada tapi pemancar tidak ada sejak 2 tahun terakhir… haloooo. Pukul 09.00 Wita, kami ikut beribadah di gereja bersama penduduk yang mayoritas Kristen Protestan dengan jumlah KK 301/ 968 jiwa dengan luas wilayah 481,1 Ha.

Hari terakhir, lima menit dengan speed boat kami menuju ke pasir putih pulau Nitu untuk berenang. Pantai yang aduhai, sepi, warna Biru, tak berombak pula.  Bagi penduduk ini tempat yang biasa tapi bagi kami ini luar biasa, surga …. Paradise! A hidden one… Para & Nitu islands.

Kami menikmati kuliner kuah ikan asam dengan sayur pepaya dicampur kelapa muda dan santan…apa mau dikata? No diet..no no. Sorepun disuguhkan amu goreng dan kue Betawi ditemani teh hangat manis… and i keep calling you…heaven on Earth.

Kembali ke Pulau Para, kami hiking ke tempat yang konon keramat. Ada pohon Kamboja yang sudah berusia ratusan tahun dan keramik serta uang logam Portugis. Kenapa uang Portugis, konon Pulau ini ditemukan oleh Beatrix berkebangsaan Portugis pada thn 1673. Juga konon, Presiden Soekarno pernah mampir disini.  Kami sempat berfoto dari ketinggian di sini dan melayangkan pandangan ke bawah… laut di sekitar Pulau Para yang masih virgin… deep deep in my heart

Trip tiga hari dua malam saya bersama sahabat masa kecil sungguh sesuatu yang ‘luxurious’.  Semua kami (Cindy Winata, Atika Winata, Sjeny Tampone, Merry Karouwan) dapatkan mulai dari kapal yang nyaman, makanan yang lezat, homestay bersih, laut yang ‘tidak biasa’, penduduk yang ramah (tidak ditemukan covid disini), alam bebas polusi (tidak ada kendaraan di sini), ibadah pagi rutin setiap hari di rumah penduduk (kecuali Minggu).  Sayapun berpikir…bahagia itu sederhana. Ah… Hedosau Musombang, sampe bakudapa.

Sebelum pulang, pijatan Mbau Dick dan sayur bunga pepaya dicampur kelapa muda berhasil membuat tertidur dan dibangunkan untuk menikmati Sagu campur Kelapa Muda dan Kakap Merah….what a life.  Speedboat sudah disiapkan utk kami kembali Manado lewat Siau.

SulutAja, by Merry