PANDEMI COVID-19 PEMERINTAH HARUS PERHATIKAN PETANI
MANADO, suluthebat.com-Mewabahnya virus Korona, yang sudah memasuki bulan ketiga di Indonesia sejak ditemukan kasus awal Maret, berdampak luas bagi berbagai sektor di Tanah Air. Sektor perdagangan, transportasi, pariwisata, tak terkecuali sektor pertanian ikut terdampak penyebaran penyakit yang berbahaya ini.
Ketua Pemuda Tani Indinesia (PTI) Sulut Michael Pandeirooth mengatakan, sektor pertanian merupakan pengaman untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari masyarakat, baik pertanian pangan, ternak, sayuran dan buah buahan, serta perkebunan. “Apalagi mewabahnya Covid-19 ini menuntut masyarakat untuk meningkatkan imunitas dengan antara lain mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi,” ujarnya. (30/5)
Ia menuturkan, dengan indikator rata-rata pengeluaran pangan rumah tangga masih sekitar 50 persen dari total pengeluaran, maka dapat dikatakan pangan menjadi persoalan krusial rata-rata rumah tangga Indonesia. Hal itu terkait dengan kemampuan penduduk dalam mengakses makanan.
“Ketika sebagian besar pendapatan dialokasikan untuk membiayai pengeluaran makanan, maka sedikit saja gangguan pada pendapatan atau gejolak harga pangan akan berpengaruh signifikan pada kemampuan untuk mengakses makanan. Gejolak pada harga pangan sangat mungkin terjadi apabila terjadi keterlambatan pasokan,”terangnya.
Lanjut Pandeirooth, Meskipun demikian, kondisi saat ini justru menjadi sebuah dilema bagi sektor pertanian. Pada satu sisi peluang pasar produk pangan tetap terbuka lebar. Di sisi lain distribusi hasil pertanian terkendala pembatasan sosial berskala besar, lesunya permintaan akibat pandemi Covid-19, dan menurunnya harga produk pertanian di masa panen raya. “Ujung, petani yang paling terpukul akibat kondisi ini,” paparnya.
Pandeirooth mengungkapkan, pemerintah harus lebih memperhatikan para petani ditengah pandemi korona saat ini, misalnya memberikan bantuan berupa bibit atau pupuk, ataupun kemudahan lainnya.“ pemerintah harus bantu para petani, para pekerja harian, buruh, nelayan dan pelaku UMKM agar daya belinya tetap terjaga serta terus beraktivitas dan berproduksi,” ungkap Pandeirooth. (aji)
