Juni 1, 2026

PEMERINTAH Provinsi Sulut baru saja menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Tahun Anggara (TA) 2021 dengan hasil opini audit, Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Adalah predikat opini yang dikeluarkan oleh lembaga audit pemerintah, BPK yang tertinggi di atas WDP, WTP dengan penjelasan, Tidak Wajar dan tidak menyatakan pendapat atau disclaimer of opinion. 

WTP kali ini adalah yang ke-6 kali berturut-turut di masa pemerintahan Olly Steven dan 8 kali berturut-turut bagi Pemprov Sulut. Ini menjadi sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Hal ini penting karena sistem pengelolaan keuangan daerah yang diaudit oleh pihak asesor eksternal dalam rangka fungsi pengawasan dan kontrol penyelenggaraan keuangan daerah. Maka, sebetulnya saat melakukan audit itulah kredibilitas lembaga auditor yang sedang dipertaruhkan namanya. 

Maka, dalam sambutan saat menerima LHP BPK tersebut, Gubernur Olly Dondokambey mengatakan jajaran pemerintah Provinsi Sulut tidak merasa puas dengan opini yang telah diraih, tetapi akan terus terpacu untuk terus melakukan pembenahan. 

Kenapa? Karena Olly Dondokambey tidak ingin terlena dan terlalu melakukan glorifikasi terhadap apa yang sudah seharusnya memang Pemprov lakukan yakni, akuntabilitas dan profesional dalam hal pengelolaan anggaran. Olly justru sedang on fire dengan gagasan besar mewujudkan visi nya; Sulut sebagai pelaku ekonomi di kawasan Pasifik—Tak sekadar pintu gerbang. 

Olly baru saja pulang dari Korea Selatan, mendampingi Megawati Sukarnoputri yang diundang khusus pada prosesi pelantikan Presiden Korsel Yoon Seok-Yeol. Momentum itu tak disia-siakan Gubernur Olly yang langsung menjajaki sejumlah peluang bisnis dengan pebisnis Korsel untuk berinvestasi di Sulawesi Utara. 

Dan inilah bukti kepiawaian Olly Dondokambey yang memiliki “mata  mangunı” yang tajam serta mampu melihat dalam kegelapan malam, sehingga si mata manguni ini bisa jelas melihat potensi di kawasan Pasifik seperti yang sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh Sam Ratulangi. Coba lihat, Olly sudah berhasil membuka penerbangan Manado-China, pada saat pandemi, Olly membuka direct call export Manado-Narita, Jepang. Dan kini Olly berhasil menjajaki kerjasama dengan Korea Selatan di mana Korsel memiliki sejumlah kepentingan bisnis di Indonesia termasuk Sulawesi Utara. 

Indonesia memang, melalui Sulawesi Utara sedang memainkan peran penting di kawasan Pasifik. Justru terjadi ketika dunia sedang digoncang oleh pademi covid-19, di Eropa, NATO sedang sibuk dengan konflik Rusia-Ukraina dan Amerika Serikat justru sedang sibuk dengan pembenahan masalah-masalah internal. 

Sejumlah negara di pasifik, China, Jepang, Korsel, Vietnam, Filipina hingga Indonesia sedang giat mengembangkan ekonomi yang secara tidak langsung menguasai perekonomian dunia. 

Inilah momentum emas yang tak ingin disia-siakan sang Gubernur. Pandemi memang masih mengancam, tapi urat nadi ekonomi tidak boleh mati. Berbagai sektor pun langsung digenjot, dari sektor pariwisata, perikanan, pertanian, perdagangan dan jasa dan sektor lainnya terus dioptimalkan demi meningkatkan perekonomian Sulut. 

Alhasil, Sulut pada triwulan pertama 2022 ini berhasil tumbuh positif di angka 3,86% atau secara keseluruhan dari tahun 2021 tumbuh 4.16% lebih tinggi dibanding tingkat pertumbuhan perekonomian nasional 3,69%. 

Tingkat kesejahteraan pun meningkat di mana dibanding september 2020, angka kemiskinan turun dari sebesar 9,3 riba jiwa atau sebesar 7.3% dari total penduduk. PDRB Sulut tahun 2021 mencapai 142,6 triliun.  Termasuk Sulut mencatatkan surplus pada neraca perdagangan Tahun 2021 pada angka $75,08 Juta USD sekaligus mencatatkan pelabuhan Bitung dan Amurang menjadi pelabuhan muat tertinggi  pada Top Five secara nasional. 

Bahkan dari sisi konsumsi rumah tangga, Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan tingkat konsumsi tertinggi pula yakni, 4,18% dibanding DKI Jakarta 3,63%, Jambi, Riau, Maluku, Kalimantan dan Papua di bawah 3%. 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pun cukup membanggakan. Sulawesi Utara masih berada di atas nasional dan berada pada peringkat 7 dari 33 provinsi lainnya di Indonesia.

Apa makna dibalik angka-angka ini? Tidak lain, pemerintahan yang profesional dan efektif dari Olly dan Steven berhasil menciptakan iklim investasi yang kondusif sehingga investor dan pelaku bisnis mendapatkan iklim bisnis yang sangat kondusif, memberikan dampak positif pada semua sektor. 

Apakah angka-angka ini membuat Olly Dondokambey dan Steven Kandouw jumawa? Jelas tidak. Buktinya, setelah sejumlah program pembangunan mencuat sejak Olly memimpin Sulawesi Utara. Mulai dari jalan Tol Manado-Bitung, Waduk Kuil, pengembangan KEK Bitung, KEK Likupang, Superhub Bitung, Manado Outher Ring Road, Bandara Samrat, RS ODSK, dll., Olly Steven masih concern dengan sejumlah agenda pembangunan yang sudah diagendakan seperti Kawasan Industri Bolmong (Kimong) dan pembangunan Jembatan Salibabu-Karakelang hingga Jalan Tol Manado-Tomohon-Amurang.

Olly kini sedang mengupayakan Sulawesi Utara benar-benar menjadi Super Hub, dengan sejumlah negara-negara besar di Pasifik tersebut. Masalahnya, visi besar Olly Steven membutuhkan dukungan SDM dan managerial yang mumpuni dari seluruh stakeholder pemerintahan Sulut. 

Sangat disayangkan masih terlihat sejumlah perangkat daerah yang tidak mampu mengimbangi laju pemikiran dan kebijakan sang Gubernur. Padahal, sejak awal si mata manguni sudah mencanangkan akan menggapai puncak gunung Klabat meneruskan cita-cita Sam Ratulangi.

Memang, mata manguni itu kini tak berkedip. Apakah peran pasifik akan ia dimainkan dari Sulut atau langsung masuk jajaran pemangku kepentingan nasional. Bagi kita tidak begitu penting. Yang terpenting adalah perannya membawa Sulut pada cita-cita Sam Ratulangi itu. (Veldy Reynold)***