April 22, 2026

Ketika Tulude di Kema Padukan Budaya Nusa Utara-Minahasa

Kolaborasi tarian adat suku Nusa Utara dan Minahasa dalam prosesi acara Adat Tulude di Kecamatan Kema

Minut, suluthebat.com- Perdana di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) perayaan pesta adat Tulude yang merupakan adat budaya suku Nusa Utara berkolaborasi dengan adat budaya suku Minahasa, digelar di Aula SMK Perintis Kema. Selasa (28/2/2023).

Upacara adat Tulude berarti menolak untuk terus bergantung pada masa lalu dan bersiap menyongsong tahun depan. Tulude diadakan sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah yang telah diberikan Tuhan selama setahun yang lalu. 

Bupati Minut Joune Ganda didampingi
Camat Kema Daniel Komenaung bersama Forkopimda

Terpantau media ini, kedatangan Bupati Minut Joune Ganda dalam acara tersebut, disambut dengan tarian Kabasaran yang merupakan tarian suku Minahasa. Kemudian dilanjutkan penyambutan dengan tarian dari suku Nusa Utara yaitu tari Gunde dan Upase yang diiring musik tradisional yaitu Tagonggong.

Gunde atau Unde berarti gerak yang halus, sehalus pekerti wanita.Oleh karena itu tari Gunde hanya ditarikan oleh kaum perempuan saja sehingga sering juga disebut Salaing Bawine (Salaiang bahasa Sangihe berarti tar/gerak, Bawine bahasa Sangihe berarti Wanita/Perempuan).

Sedangkan, Tarian Upase adalah tarian yang menggambarkan kesiapan pengawalan raja dalam setiap peperangan.

Pemotongan kue adat Tamo

Usai ibadah, dilanjutkan dengan pemotongan kue adat Tamo dipimpin oleh tokoh adat, disebut juga Mayore Labo, dengan prosesi upacara adat  menggunakan bahasa daerah khas suku Sangihe pada ucapan dan doanya.
Kue adat Tamo adalah makanan khas adat Sangihe – Sitaro – Talaud sebagai lambang kebersamaan persaudaraan yang rukun dan damai. Kue adat Tamo yang terbuat dari beras ketan pilihan serta dihias dengan berbagai hasil pertanian masyarakat setempat. Sejak dahulu sampai kini, menjadi simbol masyarakat Nusa Utara untuk tunduk dan patuh kepada Pemerintah sebagai wakil Allah di dunia.

Bupati Minut Joune Ganda, memberi apresiasi kepada pemerintah kecamatan Kema yang untuk pertama kalinya menyelenggarakan pesta adat Tulude. Uniknya, pelaksanaan pesta adat tulude ini adalah kolaborasi bukan hanya dari beberapa suku tetapi juga dari beberapa agama. Dimana yang hadir disini juga tidak terbatas pada agama tertentu, padahal kita tahu, suku Nusa Utara lebih banyak mengangkat nuansa kristiani.

“Pelaksanaan acara ini merangkul semua suku, agama dan ras termasuk membawa masyarakat di kecamatan Kema menjadi senang karena adanya pesta ini. Saya melihat antusias warga yang hadir sangat luar biasa,” ucap JG.

Suasana ini tentunya kita harapkan akan lebih membangun keakraban, kebersamaan dan kekompakan hingga pada saat membangun wilayah khususnya di kecamatan Kema bisa lebih cepat. Dengan acara ini, akan memperkaya kearifan lokal kita sebagai salah satu penunjang DPSP Likupang yang bisa dinikmati wisatan dalam negeri dan mancanegara.

“Kegiatan ini saya minta untuk dibuat rutin setiap tahunnya. Saya berharap dukungan dari masyarakat dalam membangun keberagaman dan kebersamaan di kabupaten Minahasa Utara, dan kecamatan Kema menjadi suatu contoh dari bentuk keberagaman tersebut,” ujarnya.

Sementara, Camat Kema Daniel Komenaung yang juga adalah Putra asli Nusa Utara mengungapkan terima kasih kepada Pemkab Minut dalam hal ini Bupati Joune Ganda atas apresiasi yang diberikan.

“Kepada seluruh masyarakat di kecamatan Kema, terima kasih atas dukungan, kerjasama dan partisipasinya sehingga acara Tulude ini boleh terlaksana dengan sukses. Mari kita bergandengan tangan tanpa memandang perbedaan, untuk terus membangun kecamatan Kema lebih baik, serta kabupaten Minahasa Utara lebih hebat,” ucap Komenaung.

Peniupan lilin HUT ke-2, kepemimpinan JGKWL di Minut

Dalam acara pesta adat Tulude, dirangkaikan juga dengan peniupan lilin HUT ke-2 untuk kepemimpinan Bupati Joune Ganda dan Wabup Kevin W. Lotulung. (Vivi)