Juli 27, 2026

Badan Geologi Tetapkan Gunung Karangetang ke Level Siaga

JAKARTA, suluthebat.com – Badan Geologi menetapkan status Gunung Karangetang di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara dinaikkan dari level waspada menjadi siaga sejak Rabu (8/2/2023) sore sekitar pukul 17.00 Wita.

Keterangaan tertulis Badan Geologi yang ditandatangani Plt. Kepala Badan Geologi, Muhamad Wafid, menerangkan aktivitas vulkanik secara visual dan kegempaan setelah dievaluasi menunjukan peningkatan aktivitas.

Sebelumnya pada 1 – 7 Februari 2023 Badan Geologi mencatat 162 kali tiga gempa Guguran, 54 kali gempa Hembusan, 66 kali gempa Fase Banyak, tiga kali gempa Vulkanik Dangkal, 23 kali gempa Vulkanik Dalam, tiga kali gempa Tektonik Lokal, satu  kali gempa Terasa (MMI I) dan 42 kali gempa Tektonik Jauh.

Sementara Januari 2023 terekam 71 kali gempa Guguran, 52 kali gempa Hembusan, 8 kali Tremor Non-Harmonik, 94 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 19 gempa Vulkanik Dangkal, 152 gempa Vulkanik Dalam, 44 kali gempa Tektonik Lokal, 10 kali gempa Terasa, dan 371 kali gempa Tektonik Jauh.

Menurut Wafid, dari pengamatan visual belum menunjukan perubahan signifikan. Tinggi kolom asap umumnya masih berkisar antara 50 – 150 meter di atas puncak, tapi  guguran di kawah utama terus  meningkat sejak 4 Februari 2023. Guguran lava meluncur ke arah kali Batang, kali Batuawang serta kali Beha barat sejauh sekitar 1000 meter dari puncak, sinar api masih belum tampak, suara gemuruh guguran lava kadang terdengar di Pos Pengamatan.

Dikatakan kondisi kawah utara tampak api diam di tubuh kubah lava, demikian pula asap kawah belum mengalami perubahan yang signifikan. Dari  data instrumental, gempa guguran menunjukan peningkatan sejak 18 Januari 2023, dan semakin meningkat pada 6 Februari 2023 sehingga terekam sebanyak 43 kejadian dan pada 7 Februari 2023 gempa guguran meningkat menjadi 62 kejadian per hari.

Guguran yang terus meningkat diindikasikan dengan peningkatan suplai magma ke permukaan, sehingga terjadi penambahan material kubah serta  ketidakstabilan pada kubah lava. Pergerakan magma kepermukaan ini memungkinkan diikuti terjadinya erupsi efusif.

Menurut Badan Geologi, Karangetang merupakan gunung api paling aktif di Indonesia yang ditandai seringnya erupsi hampir setiap tahun dengan karakteristik berupa eksplosif tipe strombolian serta pertumbuhan kubah lava yang sering diikuti kejadian guguran lava.

Risiko bahaya makin tinggi sebab area sekitar Karangetang jarak pusat erupsi ke batas pantai dengan hanya sekitar 4 km dan di situ merupakan pemukiman. Karenanya, pada level  ini Badan Geologi mengimbau masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak dibolehkan beraktivitas dan mendekati area dalam radius 2,5 km dari kawah Utama serta 3.5 km pada sektor selatan dan tenggara.

Masyarakat sekitar  diminta juga tetap tenang, jangan terpancing isu-isu tak jelas dan mengikuti arahan  BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kabupaten Sitaro. Di musim hujan ini, masyarakat di sepanjang bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar tetap waspada bahaya ancaman aliran lahar.

Sementara, petugas Pos Pengamatan Gunung Karangetang, Richard mengungkapkan terpantau asap kawah Utama putih sedang tinggi sekitar 100 meter di atas puncak, dan di kawah Utara terlihat asap kawah putih sedang tinggi sekitar 50 meter di atas kubah, Api diam pada tubuh kubah masih terjadi.(*)