Mei 31, 2026

Drawing Batal, Argentina Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20

Jakarta, suluthebat.com-Setelah FIFA membatalkan drawing Piala Dunia U-20 yang rencananya digelar di Gedung Ksirarnawa, Bali,  pada Jumat 31 Maret akhir pekan ini, Argentina dikabarkan berkirim surat ke FIFA.

Sebagaimana diberitakan TycSports, Asosiasi Sepak Bola Argentina, AFA, telah mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20, apabila perhelatan akbar sepak bola dunia itu tak jadi digelar di Indonesia.

Argentina ingin tampil sebagai opsi pertama apabila Indonesia dikenai sanksi dan tak jadi menggelar Piala Dunia U-20.

Argentina ngotot ingin menggantikan Indonesia karena akan memberikan hak partisipasi bagi Timnas U-20 negara itu di Piala Dunia U20 2023.

Seperti diketahui, timnas U20 Argentina tidak lolos ke Piala Dunia U20 2023 usai kalah bersaing di kualifikasi zona Amerika Selatan.

Selain itu, terkait visi menuju 2030, di mana Argentina berambisi mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030.

Untuk Piala Dunia 2030, Argentina berkolaborasi dengan Chile, Paraguay, dan Uruguay secara resmi sudah melayangkan permintaan resmi untuk maju bersaing memperebutkan hak sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030.

Erick Thohir Lobi ke FIFA

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, saat ini sedang berkoordinasi dengan pemerintah serta akan berusaha melobiFIA terkait pembatalan drawing Piala Dunia U-20.

“Pak Erick Thohir sedang koordinasi dengan Kemenlu sebagai penanggung jawab diplomasi dan Kemenpora yang berpayung menjadi INAFOC sebagai penyelenggara event. Demikian juga beliau akan melaporkan ke Presiden RI Joko Widodo, proses-prosesa ini dan mencari solusi yang terbaik untuk menyelamatkan sepak bola indonesia yang kita cintai,” ujar Arya Sinulingga, anggota komite eksekutif PSSI.

“Kami berharap dan memohon pencinta sepak bola Indonesia yang mau sepak bola maju untuk tetap tenang. Kami mencoba mencari solusi dan berbicara dengan FIFA dalam waktu dekat. Karena kekhawatiran kita, kita dikucilkan dalam ekosistem sepak bola dunia,” tambah Arya.

PSSI, kata Arya, tak berani berandai-andai soal bagaimana status Indonesia sebagai host, usai batalnya pengundian.

“Kita belum berani berbicara persentase karena dengan dibatalkannya drawing ini kemunduran atau sebagainya. Penetapan grup sudah berubah. Kita tidak tahu bagaimana kondisi terkini. Pastinya, Pak Erick akan lakukan diplomasi pendekatan ke FIFA,” terangnya.

Pemerintah Harus Tegas  

Pembatalan Drawing Piala Dunia U-20 ini membuat gelisah sejumlah pengamat sepak bola di tanah air.

Para pengamat sepak bola mengatakan pembatalan drawing itu sebagai tanda bahaya buat Indonesia.

Jika pemerintah tidak bisa membereskan polemik keikutsertaan Israel di Piala Dunia U-20, kata mereka, FIFA bisa mengambil keputusan tegas mencabut mandat negara Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20.

“Pembatalan penyelenggaraan drawing bukan masalah sederhana. FIFA melihat ada permasalahan besar di Indonesia sehingga mereka membatalkan kegiatan penting menyangkut Piala Dunia U-20. Pemerintah harus serius menyikapinya,” ujar Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, Sabtu (25/3/2023).

Pemerintah Indonesia, kata Akmal, harus segera bersikap tegas mendudukkan persoalan Piala Dunia U-20 menjadi persoalan olahraga, tidak melebar ke masalah politik seperti yang terjadi beberapa pekan terakhir.

“Pemerintah harus tegas, menunjukkan dukungannya secara nyata agar pelaksanaan Piala Dunia U-20 jelas. Koordinasi harus dilakukan antarkementerian untuk memperjelas status Israel sebagai salah satu peserta. Sebagai tuan rumah, kita tidak mungkin menolak kehadiran mereka. Israel jadi peserta Piala Dunia U-20. Titik, tidak bisa diperdebatkan,” tegasnya.

Israel, lanjut Akmal, jadi peserta Piala Dunia U-20 setelah menjalani fase kualifikasi seperti peserta-peserta lainnya sehingga berhak tampil di Indonesia.

“Piala Dunia U-20 jangan dicampurkan dengan politik. Kehadiran Israel tidak akan memengaruhi posisi politik Indonesia terhadap negara tersebut. Yang yang datang ke Indonesia atlet, bukan pemerintahan negara,” ucapnya.

“Dan tidak lantas karena kita menerima kehadiran mereka, posisi politik Indonesia dianggap berubah. Pemerintah harus berani bersikap karena sekarang pertaruhannya nama baik Indonesia,” jelasnya.

Ia mengingatkan jika sampai gagal menghelat perhelatan Piala Dunia U-20 ini, Indonesia jangan pernah berharap bisa menyelenggarakan event-event olahraga lainnya.

“Olimpiade, Piala Dunia, jangan mimpi suatu saat digelar di negara kita. Lupakan. Wong di level Piala Dunia U-20 kita tidak bisa menjamin keikutsertaan satu tim,” terangnya.

Ditambahkan, Indonesia Indonesia berpotensi mendapatkan sanksi berat dari FIFA.

“Kita dianggap telah mengacaukan program otoritas sepak bola tertinggi dunia. Mestinya Piala Dunia U-20 jadi momen bagi bangsa kita untuk membalikkan stigma buruk sepak bola Indonesia ke dunia internasional,” ujarnya.

Menurutnya, sepak bola Indonesia sudah terkenal dengan sejumlah kasus di antaranya kasus pengaturan skor, keributan antarsuporter dan pemain, dan pelaksanaan kompetisi yang berantakan.

“Sudah tidak berprestasi, tapi dapat tiket berlaga di Piala Dunia U-20, tapi Indonesia terkesan banyak mau. Kan lucu, kita minta ke FIFA untuk menggelar pertandingan yang melibatkan Israel ke Singapura. Lha, kitanya ini siapa ? Sudah tidak berprestasi, sok ngatur-ngatur. Kita fokus saja jadi tuan rumah yang baik, tunjukkan kalau Indonesia bisa,” ujar Akmal.

Mantan jurnalis ini menghimbau pemerintah untuk melibatkan pengamat sepak bola Tanah Air untuk melakukan audiensi dengan berbagai organisasi Islam guna menjelaskan secara mendetail tentang bagaimana aturan main di dunia sepak bola.

“Banyak yang belum paham duduk persoalan Israel bisa hadir sebagai peserta. Hal itu perlu dijelaskan dengan audiensi ke ormas-ormas Islam yang tergabung ke MUI. Saya yakin para pengamat dengan senang hati mau terlibat karena ini kepentingan buat menyelamatkan nama baik Indonesia,” jelasnya.

“Sedih rasanya melihat kondisi terkini. Kita sudah senang ditunjuk jadi tuan rumah World Cup U-20, kemudian timbul pandemi. Sekarang pandemi berlalu muncul lagi masalah baru. Muka Indonesia mau ditaruh di mana jika sampai status tuan rumah dicabut,” ujarnya.

Pengamat sepak bola senior Kesit Budi Handoyo menambahkan pembatalan drawing Piala Dunia U-20 adalah sebuah waring keras dari FIFA.

“Pembatalan drawing oleh FIFA adalah warning keras. Jangan menganggap remeh masalah ini. FIFA dikenal sebagai organisasi yang tertib berorganisasi, ketika mengeluarkan keputusan pasti sudah dihitung secara cermat baik dan buruknya,” ujar Kesit.

“Tak ada perbedaan berkaitan dengan hal ini. Kita sepakat bersatu menyelamatkan Indonesia dari ancaman sanksi karena gagal menggelar Piala Dunia U-20. Event ini harus berjalan di negara kita. Stakeholder sepak bola harus bersatu mengesampingkan perbedaan demi nama baik Indonesia,” tambahnya.

Kesit bersama sejumlah pengamat sepak bola berencana melakukan audiensi ke DPR RI, pihak terkait, atau bahkan Presiden Joko Widodo.

Drawing Batal Karena Sikap Gubernur Bali

Pembatalan drawing Piala Dunia U-20 di Bali diduga kuat akibat sikap tegas Gubernur Bali, I Wayan Koster, menolak kehadiran Timnas U-20 Israel, termasuk menolak Timnas U-20 Israel bertanding di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar Bali.

“Gubernur Bali telah meneken government guarantee, bersepakat dan setuju saat Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20, dan sekarang mereka menolak. Wajar kalo FIFA akhirnya memutuskan membatalkan drawing di sana,” ujar Arya Sinulingga.

Selain sikap tegas Gubernur Bali, MUI, sejumlah ormas Islam, DPP PDI Perjuangan, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga menolak tegas kehadiran Timnas U-20 Israel dalam ajang Piala Dunia U-20 di Indonesia.

Reaksi paling garang terhadap rencana kehadiran Timnas U-20 Israel itu disuarakan PA 212.

Senin (20/3) lalu, PA 212 yang di dalamnya bergabung sejumlah ormas ‘Islam Kanan’ seperti FPI dan Hitzbur Thahir menggelar aksi unjuk rasa di Patung Kuda, Jakarta.

Orma Islam pendukung fanatik Anies Baswedan dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 ini mengancam akan mencegat Timnas U-20 Israel di bandara.

Para peserta unjuk rasa juga membentangkan sejumlah poster bernada keras.

Bahkan ada poster yang bernada keras terhadap Presiden Joko Widodo berbunyi  “Jokowi failed”.

Seorang orator berteriak lantang dari atas mobil komando, “pemerintah berkianat”.

“Israel menjajah. Indonesia sepakat penjajahan di dunia harus dihapuskan!” teriak sang orator.

“Bela Palestina, tolak tim U-20 Israel ke Indonesia,” teriaknya lagi.

Cegat Timnas Israel di Bandara

Staf Sekum DPP FPI, Husein, yang hadir di lokasi unjuk rasa mengatakan rencana mencegat Timnas U-20 Israel di bandara merupakan pilihan terakhir.

“Kita akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau pemerintah kita tetap menerima memaksa untuk mendatangkan berarti itu kan jelas-jelas melanggar konstitusi, kita akan datang ke bandara,” ancamnya

Husein mengatakan pihaknya menolak kedatangan Timnas U-20 Israel karena Israel hingga saat ini masih menjajah Palestina.

Unjuk rasa ini, lanjutnya, merupakan amanat UUD 1945 yang menyatakan Indonesia menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia.

“UUD 1945 itu tertulis bahwa kemerdekaan ialah hak segalanya bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” jelasnya.

Israel, kata Husein, bukan hanya menjajah Palestina, tetapi juga melakukan hal keji seperti membunuh rakyat Palestina.

“Bukan hanya yang bertempur tapi rakyat sipil pun, termasuk ibu-ibu dan anak-anak pun tidak luput dari aksi kekejian dan kebiadaban dari zionis Israel,” tuturnya.

Menurutnya, Indonesia akan menyakiti rakyat Palestina jika menerima Timnas Israel U-20, apalagi Indonesia berutang budi pada Palestina.

“Palestina ini adalah negara Timur Tengah yang mengakui kemerdekaan Indonesia saat awal-awal kemerdekaan Indonesia di mana seluruh dunia belum ada yang mengakui kemerdekaan Indonesia,” terangnya.

MUI : Israel Zionis, Semua Ormas Islam Tolak                        
Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang anggotanya seluruh ormas Islam di Indonesia tak kalah lantang bersuara keras.

Ketua Komisi Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, Sudarnoto Abdul Hakim, menyebut semua ormas Islam di tanah air telah bersepakat menolak tegas kehadiran Timnas Israel U-20 untuk berlaga di Indonesia.

Sudarnoto menyatakan, hal itu telah disepakati dalam pertemuan antara MUI dengan ormas-ormas Islam di Indonesia belim lama ini.

“Semua ormas Islam yang hadir menyatakan sikap menolak kehadiran Timnas Israel,” ujarnya

“Zionis Israel adalah penjahat dan penjajah,” ucapnya.

Selain itu, kata Sudarnoto, Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan tidak akan pernah membuka hubungan diplomatik sepanjang Palestina masih dijajah.

Ia juga menambahkan MUI dan seluruh ormas Islam di tanah air tetap memperkuat solidaritas kepada rakyat dan bangsa Palestina yang selama ini menjadi korban dari agresi, aneksasi, genosida dan politik apartheid Israel.

Menurutnya, persatuan dan kesatuan bangsa harus dirawat, diperkuat, dan dilindungi dari ancaman disintegrasi yang diakibatkan oleh kontroversi dan pro-kontra kehadiran Timnas U-20 Israel ini.

PDI Perjuangan Tiru Bung Karo

Bak disambar petir di siang bolong, di tengah maraknya aksi unjuk rasa kelompok Islam Kanan, beredar surat Gubernur Bali yang juga kader PDI Perjuangan yang isinya menolak kehadiran Timnas U-20 Israel.

Surat bernomor T.00.426/11470/SEKRET meminta Menteri Olahraga mengambil kebijakan melarang Timnas U-20 Israel bermain di Indonesia.

“Kami mohon agar Bapak Menteri mengambil kebijakan untuk melarang tim dari negara Israel ikut bertanding di Provinsi Bali. Kami, Pemerintah Provinsi Bali menyatakan menolak keikutsertaan tim dari negara Israel untuk bertanding di Provinsi Bali,” bunyi isi surat tersebut.

Satu dari enam stadion penyelenggaran Piala Dunia U-20 adalah Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar Bali.

Ketua Bidang Keagamaan dan Ketua Bamusi DPP PDI Perjuangan, Prof Dr Hamka Haq, menilai kebijakan politik Israel terhadap Palestina tidak sesuai dengan kebijakan politik pemerintah Indonesia.

Selain itu, lanjutnya, tidak ada hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Israel.

Hamka menilai wajar banyak warga menolak kehadiran Timnas U-20 Israel.

Menurut Hamka, penolakan warga dan ormas Islam di tanah air sama dengan prinsip Presiden Sukarno, yang tidak mengakui Israel sebagai negara.

“Ya penolakan terhadap Israel itu berdasarkan prinsip Bung Karno, bahwa Bung Karno tidak akan mengakui negara Israel sebelum memerdekakan Palestina. Sampai sekarang prinsip itu dipegang oleh negara kita, termasuk oleh masyarakat luas,” ujar Hamka di Kantor DPP PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/2) lalu.

Penolakan tersebut, lanjut Hamka, tidak melanggar konstitusi.

“Penolakan itu berdasarkan sejarah kita sendiri. Artinya, tidak melanggar konstitusi kita, tidak melanggar prinsip, meski sebenarnya selama ini sudah ada jalinan-jalinan hubungan informal dengan Israel,” terangnya.

PKS Dukung Sikap Tegas PDIP

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Syura PKS Hidayat Nur Wahid mendukung sikap tegas PDI Perjuangan yang menolak kedatangan Timnas U-20 Israel.

Menurut Hidayat, sikap PDI Perjuangan melalui Ketua DPP Bidang Keagamaan dan Ketua Bamusi Prof Dr Hamka Haq, dan Gubernur Bali yang juga kader PDI Perjuangan sudah sesuai dengan konstitusi dan teladan yang pernah dicontohkan oleh Presiden Soekarno.

Oleh karena itu, lanjutnya, tidak ada lagi alasan bagi pemerintah dan PSSI untuk tidak mengikuti sikap penolakan tersebut, dan menindaklanjutinya dengan mendesak FIFA untuk mencabut keikutsertaan Israel dalam ajang Piala Dunia U-20.

“Sebagaimana pada tahun 1972 IOC karena masalah kemanusiaan pernah mencabut keikutsertaan Rhodesia hanya beberapa hari sebelum penyelenggaraan Olimpiade, sehingga Rhodesia tidak bisa ikut bertanding dalam Olimpiade musim panas di Munich,” ujar Hidayat dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/3).

Hidayat menambahkan sikap PDI Perjuangan ini merupakan kelanjutan dari sikap yang telah disampaikan PKS menolak kehadiran Timnas U-20 Israel.

Ia berharap dengan semakin banyaknya partai yang menolak, semakin memberi ruang terwujudnya kemerdekaan bagi Palestina.

Sikap tegas PDI Perjuangan, kata Hidayat, bukan hanya perlu diapresiasi, tetapi juga perlu ditindaklanjuti oleh Pemerintah.

“Kita semua tahu bahwa PDI Perjuangan merupakan partai utama pengusung pemerintahan Presiden Jokowi,” katanya.

Untuk itu, Hidayat menilai pemerintah mesti mencoret Israel dari Piala Dunia U-20.

Meski menolak kehadiran Timnas U-20 Israel, Hidayat tetap mendukung Indonesia agar sukses sebagai penyelenggaraan Piala Dunia U-20, seperti halnya Qatar.

Piala Dunia U-20 diagendakan digelar di enam stadion di Indonesia.

Pila Dunia U-20 ini berlangsung dari tanggal 20 Mei hingga 11 Juni 2023. (*)