Ansor DKI Jakarta Tebar Ancaman ke PA 212 : Jangan Sampai Sesama Anak Bangsa Berantem

Jakarta, suluthebat.com – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor DKI Jakarta Muhamad Ainul Yakin meminta Persaudaraan Alumni (PA) 212 tidak reaktif, marah, dan merasa paling benar terkait nasihat PBNU.
Ia juga mengingatkan PA 212 untuk tidak membuat kegaduhan dan membuat sesama anak bangsa saling berantem.
Ketu GP Ansor DKI Jakarta menyampaikan hal itu menanggapi reaksi PA 212 terkait nasihat PBNU untuk tidak menggunakan politik identitas.
“Semakin reaktif mereka terhadap himbauan baik seperti yang disampaikan PBNU terkait dengan politik identitas menunjukkan kelompok-kelompok yang mungkin memang senang jika negara gaduh dan sesama anak bangsa berantem,” ujar Ainul.
Ia mengingatkan agar pihak PA 212 tak merasa paling benar dan hebat. Menurutnya, kegaduhan hanya akan merugikan.
“Tidak usah merasa paling benar dan paling hebat, membuat kegaduhan hanya akan merugikan kita semua, apalagi jika sampai menciderai rasa persaudaraan antar anak bangsa,” ujarnya.
Ainul mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga kerukunan di Jakarta.
Ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga kedamaian bersama menjelang tahun politik.
“Ansor DKI Jakarta akan terus berkomitmen merawat kerukunan dan kedamaian di Jakarta ini, kami mengajak seluruh pihak menjelang tahun politik ini menahan diri dan tidak membuat ucapan atau gerakan yang memicu kegaduhan. Berapapun harganya akan kami bayar untuk menjaga stabilitas di Jakarta,” tuturnya.
Sebelumnya, Sabtu (5/11/) kemarin Slamet Ma’arif menyebut PBNU kerap mengkritik aksi PA 212.
Menanggapi krtik PBNU itu, Slamet membalsnya dengan peribahasa ‘anjing menggonggong, kafilah berlalu’.
“Kan dari dulu PBNU itu kalau kita yang aksi dibilangnya politik-politik begitu. Emang ‘lagu’-nya dari dulu. Padahal NU sendiri yang selama bermain politik,” kata Slamet.
Slamet mengkaku aksi PA 212 digelar demi kepentingan publik. Selain itu, pihaknya melakukan aksi untuk mengkritisi dan mengingatkan pemerintah terkait kebijakan yang telah diambil.
“Setiap ada kebijakan pemerintah yang memang membahayakan negara, termasuk UU yang soal Omnibus Law, kemudian kenaikan BBM yang sekarang itu, kita pasti turun. Kita sebetulnya memang gerakan moral, untuk menjadi pengingat pemerintah, mengkritisi kebijakan pemerintah supaya tidak semena-semena,” ujarnya.
NU, kata Slamet, tak paham dengan maksud dari aksi yang digelar PA 212. (*)
