Februari 19, 2026

Minsel, suluthebat.id – Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Jefry Woruntu, seorang petani sawah sekaligus sopir taksi asal Desa Tumani Utara, Kecamatan Maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Demi membiayai kuliah sang anak, pria bersahaja ini rela menggarap ladang yang dulunya hanyalah hutan, hingga kini berubah menjadi perkebunan nilam yang produktif.

(Foto Alexandro bersama kedua orang tua)

Kesulitan hidup pernah hampir meruntuhkan semangat Jefry. Beberapa tahun lalu, ia mengalami kerugian sebagai petani sawah. Hasil panen padi tak sebanding dengan biaya perawatan tanaman. “Sering saya frustrasi waktu itu. Kerja keras di sawah, tapi harga beras tak menolong,” kenang Jefry lirih.

Namun rasa cinta seorang ayah pada anak tak pernah padam. Meski kelelahan mengurus sawah dan menjadi sopir taksi demi menambah penghasilan, Jefry masih memikirkan masa depan Alexandro Woruntu, anak laki-laki semata wayangnya yang tengah berkuliah di Jurusan Teologia, Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT).

Kepada wartawan media ini, Alexandro mengaku sempat terpikir untuk cuti kuliah di semester tujuh. “Saya nyaris mengajukan cuti, karena melihat keadaan ekonomi keluarga. Tapi saya lihat semangat papa begitu besar. Saya tidak tega,” ungkap Alexandro, dengan mata berkaca-kaca.

Melihat masa depan anaknya yang terancam terhenti, Jefry mengambil keputusan besar. Ia memilih membuka ladang milik keluarga (kakaknya) yang telah lama terbengkalai. Seorang diri, tanpa pekerja, ia menebas semak, menebang pohon, dan mengolah tanah keras menjadi lahan siap tanam.

“Saya pikir, kalau cuma mengandalkan sawah dan narik taksi, tak cukup. Akhirnya saya coba tanam nilam, karena harga minyak nilam lebih menjanjikan,” tutur Jefry.

Selama setahun penuh, keringat dan doa menjadi teman setia Jefry. Hutan belantara perlahan berubah wajah. Pohon tinggi tergantikan deretan tanaman nilam hijau yang subur. Usaha kerasnya tidak sia-sia. Kini, perkebunan nilamnya sudah beberapa kali panen dan menghasilkan keuntungan lebih besar ketimbang sawah, meskipun harga nilam terkadang tidak stabil.

Hasil dari ladang nilam itulah yang akhirnya mampu menopang biaya kuliah anaknya Alexandro.

“Syukur kepada Tuhan, hasilnya lumayan. Bisa bantu bayar uang kuliah Sandro,” ucap Jefry, menyebut nama panggilan anaknya.

Alexandro pun tak henti menahan haru.Mama memang hanya ibu rumah tangga, tapi kasihnya luar biasa. Dan papa, dengan tenaga sendiri ubah hutan jadi kebun nilam. Itu sangat berarti buat saya. Karena kebun itulah, semua kebutuhan kuliah saya terpenuhi, sampai saya bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun,” ujarnya.

Kini, Sandro anak semata wayang pasangan suami Istri Jefry Woruntu dan Grace Monintja itu hanya tinggal menunggu hari bahagia: wisuda. Buah dari perjuangan sang ayah yang tak kenal lelah.

Kisah Jefry Woruntu menjadi bukti, bagaimana besar cinta orang tua yang sanggup menaklukkan rimba kesulitan demi masa depan anak tercinta. (Pro)