Mei 25, 2026

Tambelang, Desa di Sudut Mitra, Produsen Gula Aren Kualitas Prima

Picsart_24-03-18_18-17-05-490

Mitra, Suluthebat.id – Sulawesi Utara sangat dikenal dengan berbagai potensi sumber daya alamnya yang kaya. Selain destinasi wisata yang indah, kualitas produk pertanian dan perkebunannya sudah bukan rahasia lagi.

Salah satunya berasal dari Desa Tambelang, Kecamatan Touluaan Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, dimana mayoritas warganya berprofesi sebagai petani, termasuk petani tanaman aren.

Tanaman aren atau yang lebih dikenal dengan sebutan tanaman seho oleh masyarakat Sulawesi Utara, merupakan tanaman hutan bukan kayu, yang sudah sejak dulu menjadi sumber mata pencarian masyarakat, dalam hal pembuatan cap tikus maupun gula aren.

Tanaman Aren adalah tanaman penghasil bahan baku untuk pembuatan gula aren, yakni air nira. Dalam bahasa sehari-hari masyarakat Sulawesi Utara, air nira disebut saguer.

Tanaman aren ini bisa ditemui di seluruh wilayah perkebunan Provinsi Sulawesi Utara, baik di kota maupun desa-desa.

Hal itulah yang menjadi salah satu faktor pendorong banyaknya produksi cap tikus maupun gula aren, termasuk yang berada di Desa Tambelang.

Kepala Seksi Pelayanan Desa Tambelang, Ferlando Mangangantung mengatakan, petani yang memproduksi gula aren lebih banyak dari pada cap tikus. Produksinya pun sudah berlangsung secara turun-temurun sejak dulu.

Total saat ini ada puluhan petani yang secara rutin melakukan produksi gula aren, dari berbagai golongan usia.

“Ada sekitar 60 produsen gula aren, satu orang minimal bisa membuat 20 buah perhari, kalau ditotal Desa Tambelang ini bisa menghasilkan ribuan buah gula aren siap edar perharinya,” paparnya.

Untuk penjualannya lanjut Ferlando, produk gula aren masyarakat Desa Tambelang paling banyak dibeli oleh pengepul yang ada di desa, maupun dari luar desa.

“Nanti mereka yang bawa, biasanya ke pasar-pasar di Kota Manado, Minahasa Selatan, Minahasa, Minahasa Utara, sampai ke Sangihe dan Talaud,” ujar Ferlando.

Bagi para produsen, penjualan produk kepada para pengepul merupakan sistem pendistribusian yang efektif bagi para produsen, setelah memperhitungkan jarak, waktu dan biaya apabila harus menjual langsung ke pasar-pasar besar.

“Harganya bervariasi, tergantung kelangkaan bahan baku. Tapi rata-rata disini 1 buah gula aren yang sudah dikemas, produsen menjual ke pengepul dengan harga kurang lebih sepuluh sampai sebelas ribu, kalau dibawa langsung ke pasar-pasar bisa mencapai tiga belas ribu,” sambung Ferlando.

Ferlando menjelaskan, para petani selalu menjaga kualitas gula aren dengan cara mengutamakan kemurnian bahan baku (Saguer) yang dipakai, tanpa campuran bahan lainnya.

Ia mengatakan, saat ini banyak temuan gula aren di pasar yang sudah dicampur dengan beberapa bahan lainnya dengan maksud penghematan bahan baku yang berdampak pada menurunnya kualitas gula aren.

“Seperti jadi lembek, warnanya berubah, dan mudah basi. Kalau di Desa Tambelang kualitas itu tetap dijaga. Selain efeknya bagi konsumen, para petani meyakini praktek curang seperti itu tidak akan membawa berkat bagi mereka,” tuturnya.

Ferlando pun menyebut, konsistensi dalam menjaga kualitas inilah yang menjadi kunci eksistensi gula aren Desa Tambelang di pasar, baik di dalam maupun luar daerah Sulawesi Utara.

Potensi bisnis dari gula aren Desa Tambelang kerap kali dilirik pengusaha lokal yang ingin membeli produk gula aren mereka, untuk di jual ke negara-negara lain, seperti Cina dan Korea Selatan dengan skala besar.

“Katanya kualitas gula aren disini yang paling bagus, dan ada permintaan juga dari orang-orang disana (Cina dan Korea Selatan), tapi sampai saat ini belum sempat terealisasi karena berbagai kendala,” jelas Ferlando.

Gula aren sendiri merupakan hasil olahan saguer dari tanaman aren, yang proses pengolahannya oleh para petani Desa Tambelang masih dilakukan dengan cara-cara tradisional.

Mulai dari proses pengambilan saguer dua kali dalam sehari, yakni pagi hari dan sore hari, sampai pada proses memasak saguer menjadi gula aren, semuanya dilakukan secara teliti dengan teknik yang diwariskan turun-temurun.

Meskipun pengolahannya masih tradisional, masyarakat Desa Tambelang meyakini dengan menjaga kualitas gula aren buatan mereka, akan memberikan berbagai dampak positif, baik bagi mereka sendiri, orang yang mengkonsumsi, hingga memberikan citra yang baik bagi nama Provinsi Sulawesi Utara dan Suku Minahasa. (Vil)