Mei 13, 2026

Stefan Obadja Voges Pengamat Hukum dan Politik (foto ist)

Manado, suluthebat.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) telah menjadi partai favorit yang diincar banyak figur yang ingin berkompetisi dalam pemilihan Calon Legislatif (Caleg). Tidak sedikit Caleg dari partai lain yg berlomba-lomba untuk mendapatkan kursi dari PDIP. Partai yang berlambang banteng moncong putih itu sendiri tidak menampik perpindahan ini, mereka menerima siapa saja yg ingin bergabung. Fenomena apakah ini.?

Jika dulu ada istilah ‘kutu loncat’ yang ditujukan bagi para caleg yang berpindah-pindah partai, yang konotasinya agak negatif karna berkaitan dengan loyalitas dan pengkaderan. Namun skrg justru semakin berbondong-bondong caleg pindah tanpa kuatir di cap ‘kutu loncat’.

Terkait fenomena tersebut mendapat tanggapan dari Stefan Obadja Voges
yang adalah Pengamat Hukum dan Politik, menurutnya kondisi ini adalah cerminan modernisasi kepartaian. Partai di jaman sekarang tdk lagi menerapkan aturan kaku dalam perekrutan caleg. Apalagi dengan sistem proporsional terbuka, maka masyarakat memilih bukan hanya semata karena partai, tetapi juga karena figur.

“Tentunya dalam kondisi ini figur yang memiliki konstituen yang fanatik, tidak akan kesulitan mendulang dukungan, karena pendukung mereka tidak akan mempersoalkan partai sang figur berlabuh. Apalagi jika sang figur selama ini telah menunjukkan kinerja yang positif dimata masyarakat,” kata Voges.

Lebih lanjut dijelaskannya, partai sendiri meskipun cukup terbuka, namun tentunya selektif dalam memilih siapa figur yg potensial utk membesarkan partai. Terjadi simbiosis-mutualisma atau win-win solution baik bagi partai maupun bagi caleg.

Hanya saja bukan berarti bahwa hal ini tidak memiliki potensi masalah. Masuknya caleg yang berpindah partai tentunya menutup peluang kader internal yg selama ini sudah mempersiapkan diri. Hal ini pastinya akan menimbulkan persoalan internal partai. Disisi lain, sekalipun para caleg yang berpindah ini disambut untuk bergabung, namun belum tentu kemudian mereka “diterima” secara lapang dalam keluarga besar partai. Mereka sama saja dengan menapaki karier berpartai “pertamina” atau mulai dari nol. Jika di partai sebelumnya mereka memiliki posisi atau jabatan dalam kepengurusan, belum tentu di partai baru mereka langsung memperoleh jabatan.

“Jadi, modernisasi kepartaian ini merupakan sebuah kenyataan yang harus dicermati oleh semua lembaga politik di negara kita. Kedepan, partai besar akan selalu menjadi target bagi para caleg. Ini merupakan konsekuensi logis politik modern,” tandasnya. (***/Pro)