Juni 17, 2026

Monumen Coelacanth, Dikagumi Dunia Terbengkalai di Manado

0

Manado, suluthebat.com- DUNIA, khususnya kalangan ilmu pengetahuan, pernah sangat dihebohkan, ketika Latimeria Menadoensis tertangkap oleh mata pancing Justinus Lahama dan anaknya Delvi Lahama, dua nelayan yang tinggal di Malalayang, Manado, pada 19 Mei 2007.

Sejak saat itu, mata seluruh dunia terarah ke ibukota Provinsi Sulawesi Utara ini.

Berbondong-bondong para peneliti, termasuk mereka yang menaruh minat, datang untuk melihat Sea King Fish atau Ikan Raja Laut, nama yang umum dikenal di kalangan nelayan tradisional Sulawesi Utara bagi si Coelacanth ini, ikan purba yang hidup 360 juta tahun lalu dan telah dinyatakan punah sejak akhir zaman Cretaceous sekitar 65 – 70 juta tahun silam.

Eksistensi ikan ini diperkirakan sudah ada sejak era Devonia yang lebih tua dari dinosaaurus dan tidak berevolusi.

Coelacanth yang tertangkap mata kail Justinus dan Delvi Lahama itu berjenis kelamin betina dengan panjang 129 sentimter dan berat 51 kilogram yang setelah dibedah, ditemukan 25 butir telur di dalam perutnya.

Si Raja Ikan yang kemudian diregistrasi dengan kode CCC 215 ini ternyata adalah Coelacanth ketiga yang ditemukan di perairan Manado, setelah sebelumnya tertangkap juga di tempat yang sama pada 1997 dan 1998.

Fenomena ini akhirnya mengharuskan para peneliti membagi fokusnya, karena awalnya ikan tersebut dipercaya hanya hidup di perairan benua Afrika sebelah timur, tenggara dan selatan atau Samudera Hindia sebelah barat, bersamaan dengan ditemyakannya Coelacanth di Afrika Selatan pada 1938.

Speciesnya kemudian diberi nama Latimeria chalumnae. 60 tahun kemudian, ikan ini kemudian ditemukan juga di perairan Kenya, Tanzania, Komoro, Mozambik, Madagaskar dan juga Afrika Selatan.

Yang ditemukan di Manado ini memang agak berbeda dengan spesimen yang di Afrika. Latimeria menadoensis berwarna coklat, sedangkan Latimeria chalumnae biru keunguan. Coelacanth hidup di kedalaman antara 150 – 200 meter di bawah permukaan laut pada suhu 12 – 18 derajat celcius.

Dia aktif pada malam hari (nocturnal) dengan memangsa ikan-ikan kecil dan menghabiskan siang hari dengan berdiam diri di dalam gua, demikian dikutip dari podnewsindonesia.id.

Bagi para kreator, Coelacanth ini dijadikan sumber inspirasi. Dalam budaya pop misalnya, dia dimunculkan sebagai karakter dalam gim animasi asal Jepang, seperti Digimon dan Pokemon.

Di gim Digimon, ada satu monster bernama Coelamon, seekor ikan berkaki empat. Sementara d Pokemon, karakteristik Coelacanth ditampilkan lebih asli dengan nama Relicanth dengan tampilan fisik berwarna cokelat, mirip Latimeria menadoensis.

Memprihatinkan di Manado

Besar dan tingginya apresiasi dunia saintek terhadap temuan ini direspon pemerintah daerah dengan mendirikan monumen Coelacanth dengan spesies Latimeria menadoensis, persis di bibir pantai di mana dia ditemukan, yakni di kawasan Bahu Mall. Bentuk dan modelnya sangat mirip dengan si Raja Laut itu.

Sayangnya, posisinya yang “hanya” di samping sebuah restoran dengan akses sedikit terbatas tanpa ada lampu sorot, dan kemudian ada satu bangunan lagi yang didirikan ketika turis asal Cina sedang booming, makin memojokkan monumen tersebut dari pandangan bebas.

Padahal, beberapa kali terlihat ada pengunjung restoran yang dari dialeknya bisa diketahui jka berasal dari luar daerah, sangat mengagumi monumen ini setelah—mungkin—pernah membaca sejarah ikan ini.

“Sayang ya, infonya kok tidak ada di brosur atau katalog pariwisata di sini (entah Manado ataupun Sulawesi Utara, Red),” ujar seorang bapak.

Lebih memiriskan lagi, monumen Coelacanth ini, ternyata hanya dijadikan tempat meloncat dari ketinggian ke laut oleh anak-anak yang sedang mandi pantai.

Mereka memanjat melalui sirip bawah hingga kepala ikan yang memang mengarah ke Manado Tua, dan melompat ke air secara bergantian. Ada anak remaja laki-laki, tapi tidak sedikit juga yang perempuan.

Anak-anak ini terlihat sangat menikmati mainannya, karena memang tak ada satu petugaspun yang datang mengingatkan bahwa monumen tersebut sebagai suatu penanda penting terhadap suatu temuan fenomenal yang bisa saja mengindikasikan jika Manado ini sudah ada sejak ratusan juta tahun lalu.

Beberapa bagian dari monumen itu bahkan sudah mulai terkelupas atau malah ada yang patah. (dki, dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *