Mei 2, 2026

Harga Minyak Nilam Terus Merosot, Dimana Peran DPRD? Ini Kata MEP

Picsart_25-02-24_20-24-10-473

Manado, Suluthebat.id – Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) khususnya para petani tanaman nilam saat ini dibuat cemas dengan harga jual minyak nilam yang turun drastis.

Akhir-akhir ini harga jual minyak nilam dikabarkan terus mengalami penurunan.

Para petani menduga, permainan dari para tengkulak yang suka menentukan harga sendiri mengakibatkan anjloknya harga nilam secara tiba-tiba.

Harga minyak nilam yang sebelumnya mencapai 2 juta rupiah perkilonya, kini harganya kurang dari satu juta rupiah.

Kebijakan dari pemerintah diharapkan menjadi benteng terakhir bagi para petani terhindar dari ulah para pengusaha-pengusaha nakal yang tidak memikirkan kerugian para petani.

Lantas, bagaimana sikap DPRD sebagai penyambung lidah rakyat menyikapi fenomena yang kini membuat sebagian besar masyarakat Sulut harap-harap cemas?

Wakil Ketua DPRD Sulut Michaela Elsiana Paruntu (MEP) saat ditemui awak media mengatakan, hal tersebut sudah ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II bersama mitra kerja.

Michaela mengungkapkan, dalam RDP tersebut dirinya telah menyampaikan kepada Dinas Perkebunan terkait antisipasi fluktuasi harga nilam.

“Saya sempat sampaikan hal ini bisa jadi masalah, mereka bisa ngatur sendiri harga, dan terbukti setelah di cek, walaupun jatuh ada yang ngasih harga 800, ada yg 900, satu juta, tapi ada juga yang bisa dinaikin sampai satu juta setengah kan,” ujar Michaela diruang kerjanya, Senin (24/2/2025).

Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Minahasa Selatan itu pun mengungkapkan, dirinya sudah meminta kepada Dinas Perkebunan untuk melakukan kajian-kajian tentang budidaya tanaman nilam.

Pasalnya, kajian tersebut akan menjadi dasar membuat kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas harga jual minyak nilam.

Namun sampai saat ini, lanjut Michaela, dirinya belum juga menerima kajian yang dimintakan.

“Sampai hari ini kajian itu belum sampai ke kita, tetapi dipahami, karena kan baru saja dilantik Gubernur yang baru, semua lagi persiapan pergantian ini, makanya kita tunggu saja pak Gubernur tiba di Sulut setelah itu kami akan tindak lanjuti kajian yang dijanjikan,” ungkap wanita yang kerap disapa Micha itu.

Srikandi Partai Golkar itu pun berpesan kepada seluruh masyarakat khususnya para petani nilam, agar tetap semangat dan terus bekerja, sembari menunggu adanya kebijakan yang dapat melindungi petani dari ulah nakal para tengkulak.

“Teruslah bekerja, jangan lalu tiba-tiba berhenti, biar bagaimanapun hukum ekonominya berlaku, semakin banyak yang menyediakan otomatis harga akan turun, tapi mau turun sampai bagaimana ya itu yang akan diatur nanti sesuai kajian,” ucap legislator dapil Minsel-Mitra itu.

Jauh sebelum terjadi fenomena anjloknya harga jual minyak nilam seperti yang dirasakan petani saat ini, sebagai wakil rakyat Michaela Paruntu sudah beberapa kali mengambil langkah inisiatif dengan melakukan pembahasan bersama dinas-dinas terkait mengantisipasi permainan harga para tengkulak.

Seperti diberitakan sebelumnya, Michaela mengungkapkan DPRD Sulut sudah melakukan diskusi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tentang penentuan harga minyak nilam.

“Saya sudah sempat ngomong sama ketua, sama kepala Bappeda sebagai yang di perencanaan, ini kiranya bisa diperhatikan,” ungkap Michaela kepada suluthebat.id, januari lalu.

Ia menambahkan, pada dasarnya semua harus dikaji dengan yang baik, untuk menghasilkan keputusan yang baik bagi petani.

“Kalau ini betul-betul menguntungkan baru kita posisikan diri menentukan harga, karena kita harus tau juga yang beli ini siapa, kalau tidak tau siapa yang beli nanti susah tentukan harga, karena mereka menentukan sendiri harganya,” papar politisi berparas cantik itu.

“Karena tidak sembarangan untuk menentukan harga tapi kita belum tau, contoh tentang tanah yang digunakan ini apakah nanti bisa ditanami lagi, penggunaan pupuk yang berlebihan apakah tidak merusak tanah, bisa gak dia ditanam dengan tanaman yang lain nanti, hal-hal ini perlu kita pelajari dulu sebelum kita bicara tentang produksi,” tuturnya. (Vil)